KUDUS – Wacana penerapan sekolah lima hari atau full day menuai tanggapan dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kudus.
Pembelajaran yang dilaksanakan sampai sore hari, nantinya mengubah semua sistem kegiatan belajar mengajar (KBM).
Terutama sekolah negeri yang bakal sulit menerapkanya, butuh uji coba dan penyesuaian.
Hal tersebut disampaikan Ketua PGRI Kudus Ahadi Setiawan. Tak hanya berdampak pada madrasah diniyah (Madin) dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ), tapi juga psikis anak, kalau sampai sore menerima pelajaran.
”Sekolah di Kudus khususnya sekolah swasta memang sudah ada yang menerapkan sistem full day, pulangnya pukul 15.00. Tapi untuk yang negeri ini butuh proses, karena pulangnya maksimal pukul 12.30, sama halnya dengan jenjang SMP,” ujarnya.
Menurutnya, guru madin dan TPQ juga ikut terdampak dan guru lainnya. Ini diperlukan kajian yang dalam dan lebih lanjut lagi.
Ahadi menambahkan, sekolah lima hari berawal di Jakarta, untuk mengurai kemacetan. Tapi, tidak sama kondisinya di daerah, khususnya Kudus, sehingga perlu uji coba juga.
Ia mengatakan, kalaupun dari pusat menghendaki wajib dilaksanakan, diperlukan uji coba lebih dulu.
Dari, sekolah yang dianggap mampu dan lolos dari hasil uji kajian. Mulai dari jam istirahat, apakah siswa membawa bekal sendiri atau sekolah yang menyediakan.
Kemudian, mental siswa, pulang sampai sore seperti apa, serta ekstrakulikuler tentunya harus mengubah jadwal tidak mungkin sore hari.
”Ya, kembali lagi kalau ingin diterapkan perlu dilakukan kajian lebih dalam lagi. Jangan sampai anak-anak lelah dan tidak ada semangat lagi untuk belajar. Dari PGRI kalau kebijakan dari pusat ya tetap menjalankan, tapi butuh waktu dan belum semuanya bisa diterapkan,” ungkapnya. (san/war)
Editor : Ali Mustofa