Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pengurus NU Kudus Tolak Wacana Sekolah Lima Hari, Ini Alasannya

Indah Susanti • Senin, 25 September 2023 | 17:35 WIB
PRO-KONTRA: Anak-anak usia SD/MI mengikuti kegiatan saat pagi hari baru-baru ini. Ada wacana mereka akan mengikuti sekolah lima hari.
PRO-KONTRA: Anak-anak usia SD/MI mengikuti kegiatan saat pagi hari baru-baru ini. Ada wacana mereka akan mengikuti sekolah lima hari.

KUDUS – Wacana sekolah lima hari ditolak pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kudus. Sebab, menjadikan jam sekolah bertambah hingga sampai sore.

Sehingga, berdampak pada madrasah diniyah (madin) dan taman pendidikan Alquran (TPQ).

Baca Juga: Akhiri Tugas sebagai Bupati Kudus, Hartopo Pulang ke Rumah Naik Vespa

Hal tersebut juga berdasarkan dari pembahasan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2023. Hasilnya, menolak kebijakan lima hari sekolah.

Kepala Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kudus H.M. Asyrofi Masitho, mengatakan, PBNU menolak sekolah lima hari.

Sebab, dianggap bisa mematikan madin dan TPQ, karena anak-anak otomatis pulangnya sampai sore hari. Akhirnya tidak bisa sekolah madin dan TPQ.

Baca Juga: Tim PKM Universitas STEKOM dan Universitas Ngudi Waluyo Gelar Pengabdian Masyarakat di Tumpangkrasak Kudus

”Padahal madin dan TPQ itu penting, agar anak mendapat bekal agama. Di beberapa daerah memang sudah ada yang menerapkan sekolah lima hari tingkat SD dan SMP. Namun, untuk di Kudus kami akan minta kepada Pemkab Kudus, khususnya Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) untuk bisa mempertimbangkan sekolah lima hari. Dampaknya bagi madin dan TPQ,” jelasnya.

Asyrofi berharap, tidak memberikan peluang lima hari sekolah. Sesuai dengan Munas NU 2023. Anak-anak yang bersekolah terutama siswa SD negeri, mereka sore hari menimba ilmu di madin dan TPQ. Istilahnya ”sekolah ngaji”.

Baca Juga: IAIN Kudus Kembali Tambah Enam Guru Besar Baru dari Berbagai Bidang, Ini Daftarnya

”Kalau mereka pulangnya sore, padahal madin dan TPQ mulai masuk pukul 14.00, bisa dipastikan tidak berangkat sekolah ngaji. Inilah alasan kenapa menolak sekolah lima hari,” jelasnya.

Sekretaris PCNU Kudus sekaligus Wakil Rektor (WR) 3 Institut Agama Negeri Islam (IAIN) Kudus Kisbiyanto menambahkan, dia juga tidak setuju dengan sekolah lima hari.

Selain berdampak pada madin dan TPQ, juga ada alasan keilmuan.

Baca Juga: Kafe Karaoke Marak di Kudus, Dewan Sorot Kinerja Penegak Perda

Menurutnya, fekruensi lebih banyak dan durasi belajarnya lebih sedikit, lebih bagus untuk proses pendidikan.

”Karena pendidikan kita mengutamakan proses. Sekarang dilihat dari kultrural, sejak dari dulu anak-anak sekolah agama dilaksanakan sore hari. Usia TK dan SD/MI sorenya sekolah TPQ, kalau yang madin diikuti anak-anak kelas III SD ke atas, terutama SMP dan SMA,” jelasnya.

Baca Juga: Ini Dia Sosok Bergas Catursasi yang Dirumorkan Jadi Pj Bupati Kudus Gantikan Hartopo

Ditambahkan, di madin anak-anak bisa mendapatkan ilmu agama seperti fiqih, nahwu, shorof, tauhid, dan lainnya. Murid madin di Kudus bisa sampai ribuan.

”Sekolah lima hari juga bisa berdampak pada pendidikan pondok pesantren (ponpes). Jam ngaji di pondok biasanya sore sudah mulai. Saya bukan sekadar menolak, tapi mengusulkan harus ada sinergi antara pendidikan formal dan sekolah informal keagamaan,” imbuhnya. (san/lin)

Editor : Ali Mustofa
#ponpes #NU #kudu #sekolah #pendidikan