KUDUS – Desainer ternama Denny Wirawan mempersembahkan karya terbaiknya pada pergelaran yang bertajuk ”Sandyakala Smara (Gurat Merah di Langit Senja dan Cinta)” di rumah Adat Kudus Joglo Pencu Yasa Amrta pada Rabu (6/9) malam.
Bahkan, sedikitnya ada 70 model yang memeragakan busana karya Denny Wirawan itu.
Baca Juga: Duar… Dua Pemotor Tanpa Helm Tabrakan di Mejobo Kudus, Satu Tewas, Begini Kronologinya
Pagelaran tersebut merupakan peringatan sewindu kolaborasi desainer ternama Denny Wirawan bersama Bakti Budaya Djarum Foundation.
Acara yang dihadiri 250 orang dengan mengenakan dresscode baju batik dan kebaya encim.
Di antara tamu undangan yang hadir, ada beberapa artis papan atas, seperti Happy Salma, Indah Kalalo, Titik Puspa, dan Najwa Shihab.
Mereka datang ke Kudus untuk mengenal dan menjelajah budaya Kudus.
Baca Juga: Pabrik Tahu dan Mobil di Prambatan Lor Kudus Hangus Terbakar, Ini Dugaan Pemicunya
Denny Wirawan berhasil mendekatkan Kudus pada publik. Juga turut membantu menggerakkan perekonomian sejumlah kelompok pembatik di Kudus yang masih konsisten berproduksi.
Usai acara, Denny bercerita, Sandyakala Smara ini, terinspirasi dari keelokan kebaya dan kain batik.
Pergelaran karya Denny tersebut, kolaborasi dengan para pembatik binaan Bakti Budaya Djarum Foundation dan para pembatik pesisir di Pekalongan.
Juga kolaborasi batik Agam Riyadi juga turut memperkaya koleksi batik yang ditampilkan gelaran ini.
”Koleksi Sandyakala Smara tak sekadar busana, tapi ada sebuah perjalanan budaya dan kreativitas yang mempertemukan antara masa lalu dengan sekarang. Penghormatan warisan budaya,” jelasnya.
Ia menyampaikan, ada perpaduan antara budaya Tionghoa dengan Jawa, yakni terdapat batik Kudus peranakan yang dibuat keturunan Tionghoa.
Baca Juga: Hari Pelanggan Nasional, BPJS Ketenagakerjaan Kudus Beri Bingkisan ke Pekerja Disabilitas di PT Sami Jepara
Motif yang memikat dengan perpaduan warna yang pekat.
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengatakan, ini sebuah kesempatan untuk mengenalkan daya tarik Kota Kretek, sehingga menjadi salah satu destinasi wisata.
”Ini menggambarkan Kudus bukan hanya dikenal sebagai penghasil kretek, tetapi juga memiliki busana bernilai tinggi, sekaligus menghargai perjalanan panjang dalam berkarya lewat lain dan pola yang telah memberikan warna baru bagi dunia mode Indonesia,” ungkapnya. (san/lin)
Editor : Abdul Rokhim