“Ketika perempuan itu memiliki pengetahuan atau bekal ilmu nantinya juga dapat mendidik putra putrinya. Banyak penelitian yang saya baca kalau kecerdasan ibu itu akan menurun ke anak,” kata Prof Umma.
Belum lama ini, pada 10 Februari lalu, perempuan lulusan Al-Azhar Cairo tersebut dikukuhkan menjadi guru besar. Dia juga terkenal aktif menyuarakan kesetaraan gender. Dan sering menyelipkan pemikiran kesetaraan gender kepada mahasiswa saat mengajar.
“Saat dikukuhkan itu saya mengangkat soal maqasid profetik. Tentang tentang bagaimana memaknai teks itu menggunakan perspektif perempuan,” ujarnya.
Dia menjelaskan jika teks tersebut bisa saja dari teks hadits maupun tafsir. Dan produk itu kebanyakan dari ulama laki-laki. Sehingga penafsiran hadits itu nuansa patriakisnya kental.
Bahkan ada hadits yang dianggap mendiskreditkan perempuan. Misalnya larangan perempuan melakukan perjalanan jauh kecuali dengan mahramnya. Padahal memahami hadits itu seharusnya dilihat dari konteksnya.
Kondisi geografis Arab pada masa itu dengan sahara yang terjal, jarak rumah jauh, memang rawan bagi perempuan, sehingga Rasullullah melarang itu,” terangnya.
Namun dengan seiring berkembangnya zaman, sekarang sudah ada sarana transportasi yang sudah modern, sudah berubah dan canggih. Transportasi sudah banyak, dan lampu-lampu di jalan juga banyak. Tidak seperti dulu yang kalau bepergian pakai onta.
Demikian juga dalam meneladani sosok Kartini, hal itu itu bisa diambil dari sisi spiritnya untuk bisa berpengetahuan dan tidak terkungkung pada tradisi patriarkis. “Semangatnya dalam mengejar ilmu pengetahuan patut diteladani,” imbuhnya.
Sementara di era sekarang ini, istilah woman supporting woma juga tengah digalakkan oleh para aktivis. Perempuan sebagai kelompok rentan juga harus saling mendukung kelompok rentan lainnya. Support sesama perempuan justru penting, bukan malah cenderung menyalahkan. (ark) Editor : Ali Mustofa