Sub Koordinator Surveilans Imunisasi DKK Kudus Aniq Fuad mengatakan pemasukan data sebenarnya sudah mulai pada 2022, tetapi dari puskesmas itu belum siap karena faktor IT. Apalagi, banyak data yang hilang.
Selama ini penyimpanan data secara manual bentuk berkas hardfile. Misal dari puskesmas itu isetor ke DKK dalam bentuk angka. Jadi DKK tidak punya by name by addres.
“Kendalanya masih banyak bidan desa yang belum paham tentang penggunaan aplikasi itu. Maka dari itu DKK mengejar data dari puskesmas,” katanya.
Untuk sekarang ini yang baru dimulai penginputan data adalah soal imunisasi dan pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM).
“Karena anak-anak misalkan mau sekolah diluar negeri selalu ditanyakan kartu vaksinasinya. kalau mau sekolah keluar negeri itu bingung, dokumen sudah tidak ada,” jelasnya.
Sementara ini pihak DKK mengejar data bayi yang lahir pada 2022, lalu memasukkan semua data vaksinasinya.
Tujuan penginputan data IDL tersebut agar tesimpan secara digital. Sehingga ketika dibutuhkan suatu saat dapat dibuka melalui aplikasi ASIK.
Sebenarnya, kata dia, rekap Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) secara manual (tidak melalui aplikasi ASIK, Red) sudah tercapai 98 persen. Namun, aturan dari Kemenkes mengharuskan data IDL diinput di aplikasi ASIK.
Pihaknya menargetkan akhir Mei 2023 ini sudah 40 persen data yang terinput di aplikasi ASIK. Jumlah 40 persen tersebut merupakan target yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Ketercapaian IDL di aplikasi ASIK masih rendah. Data yang diinput di aplikasi per Rabu (24/5) misalnya, masih 15,7 persen. Setara dengan 1.900 an bayi.
“Padahal, jumlah bayi di Kabupaten Kudus yang harus diinput sebanyak 12.254 bayi usia di bawah satu tahun,” imbuhnya. (ark/mal) Editor : Ali Mustofa