Dari kirab itu, dua orang memegangi dua tebu yang dihiasi dengan kertas warna memutas dan janur yang dibentuk ala pelaminan. Dua tebu itu merupakan pasang pengantin tebu. Si tebu laki-laki diberi nama Joyo Sentiko dan si manten perempuan diberi nama Arum Pertiwi.
Di belakang tebu manten ni, ada pengiring yang membawa pernak-pernik dari balon. Bersamaan dengan iring-iringan barongan. Sesampainya di pabrik PG Rendeng, pasangan tebu itu kemudian diserahkan kepada karyawan PG Rendeng. Lalu, dua pasang tebu itu, dimasukkan ke dalam mesin giling.
Tradisi tersebut selalu dilakukan saat memulai musim giling. Selama masa giling tahun ini, PG Rendeng menargetkan mampu produksi 15.200 ton gula kristal putih. Jumlah tersebut didapat dari 233 ribu ton tebu yang akan digiling mulai 25 Mei hingga pertengahan Agustus nanti.
Sedangkan target pencapaian rendemen tebu pada periode giling tahun ini, diharapkan bisa mencapai 6,5 persen. Perwakilan Manajemen Kualitas PG Rendeng Noegroho Widi mengatakan, pihaknya sangat optimistis target ini tercapai. Apalagi semua PG masuk ke PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), sehingga suport yang didapatkan akan lebih banyak. ”Mesin kami juga dalam kondisi baru, sehingga kami optimis target yang dibebankan pada kami akan tercapai,” katanya kemarin.
Jajaran manajemen juga optimistis bisa melakukan giling tebu hingga 3.000 ton per hari. Pasokan tebu sebanyak itu, berasal dari petani binaan di empat kabupaten. Meliputi Kudus, Jepara, Pati, dan Rembang. Para petani di empat kota itu, akan menyetor tebu secara bertahap saat masa giling.
”Kami terus berkomunikasi dengan mereka (petani tebu di empat kota, Red). Ketika nanti kinerja pabrik baik, mereka juga tidak segan menyetorkan tebunya ke kami,” imbuhnya. (san/lin) Editor : Ali Mustofa