Sosok Mbah Asnawi dipandang sangat layak diangkat sebagai pahlawan nasional. Karena keterlibatannya dalam perjuangan tanah air. Mulai dari membekali Salawat pada pemuda laskar bersenjata hingga menolak menjadi qadli oleh pemerintah kolonial Belanda.
“KH Asnawi memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Kecintaannya kepada tanah air Indonesia juga diwujudkan dalam bait-bait syair Salawat, yang berbunyi dengan terjemahan aman aman aman, Indonesia raya aman," ungkap Sejarawan Kudus Aslim Akmal.
Akmal menjelaskan pada masa awal revolusi kemerdekaan Indonesia, terutama pada menjelang agresi Belanda pertama, Mbah Asnawi mengadakan gerakan pembekalan secara batiniah kepada pemuda-pemuda yang tergabung dalam laskar bersenjata. Beliau membekali dengan mengamalkan wirid surat Al-fil dan Salawat Nariyah.
"Bekal doa tersebut selalu diberikan sebelum mereka (pemuda, Red) berangkat ke Medan pertahanan di Genuk, Alastuwo, Semarang," katanya.
Selanjutnya, setelah mendirikan pondok Bendan pada 1927, seorang tokoh pemerintahan kolonial Belanda Van Der Plas pernah datang di kediaman Mbah Asnawi. Kedatangannya bermaksud memintanya untuk memangku jabatan sebagai penghulu (qadli) di Kudus.
Namun dengan tegas, permintaan Van Der Plas tersebut ditolak oleh Mbah Asnawi, dengan alasan jika permintaan itu dituruti, maka beliau tidak akan bebas melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar terhadap pejabat. Karena menjadi Qadli di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
“Bahkan, Mbah Asnawi beberapa kali keluar masuk penjara di Kudus akibat keteguhan mempertahankan ajaran agama,” imbuhnya saat pemaparan sejarah dalam kegiatan seminar tadarus literasi nasionalisme KH Asnawi Kudus menuju Pahlawan Nasional.
Mengenai catatan sejarah KH Asnawi dari awal sampai akhir hidup hayatnya.
Kegiatan itu juga dihadiri oleh Rektor IAIN Kudus Abdurrahman Kasdi, dan Kepala UPT Perpustakaan Nur Said el-Qudsy. (ark/ali) Editor : Ali Mustofa