Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) menduga keracunan disebabkan dari bakteri e-coli. Hal ini berdasarkan hasil lab muntahan siswa berupa makanan (makaroni telur).
Kepala DKK Kudus dr. Andini Aridewi melalui Sub Koordinator Surveilans Imunisasi Aniq Fuad menjelaskan, hasil uji laboratorium dari sisa makanan maklor positif bakteri e-coli, sedangkan jasuke hasilnya negatif. Sementara itu, kedua makanan tersebut juga mengandung bakteri kiebsiella pneumonia dan streptococctus.
“Bakteri e-coli ini bisa menimbulkan efek pusing, mual, dan menyebabkan muntah. Kami baca hasil lab bakteri tersebut ada di makanan maklor. Kalau jasuke positif mengandung kuman. Ada beberapa faktor bisa timbul bakteri, kemungkinan peralatan untuk berjualan kurang bersih dalam mencuci,” ujarnya.
Dia mengatakan, bisa jadi bekas bumbu tidak dicuci dan langsung digunakan lagi. Meski bahan bakunya aman, tapi cara pengolahan, kebersihan peralatan, sanitasi dan lainnya kurang terjaga kebersihannya juga bisa menimbulkan bakteri.
Pihaknya sudah koordinasi dengan sekolah untuk memberikan imbauan, untuk mengawasi siswanya kalau jajan di depan sekolah. Menurutnya, pedagang kaki lima (PKL) sangat perlu diberikan edukasi, membuat jajanan yang lebih higienis.
Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Harjuna Widada mengatakan, sudah rapat intern mengundang koordinator wilayah (Korwil) untuk membuat surat edaran ke sekolah-sekolah agar pengawasan jajanan siswa diperketat.
“Kalau SD negeri belum seluruhnya punya kantin. Biasanya penjaga sekolah membuka warung di sekitar sekolah. Tidak seperti SMP yang memiliki kantin sekolah. Kasus keracunan ini memang sudah berulang kali. Ini menjadi PR bersama. Kami juga tidak bisa melarang pedagang jualan di depan sekolah,” katanya. (san/mal)
Editor : Ali Mustofa