Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disdbudpar) Kudus Mutrikah mengatakan, gaun pengantin Toto Kaji, merupakan pakaian prosesi pernikahan adat Kudus. Pihaknya mendaftarkan sebagai warisan budaya tak benda ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
“Tujuan pendaftaran ini agar ada legalitas. Harapannya setelah dipatenkan, pelaku usaha juga ikut membantu pemerintah melestarikannya dengan menawarkan gaun pengantin Toto Kaji tersebut kepada masyarakat yang hendak menggelar acara pernikahan,” jelasnya.
Selain itu, pelaku usaha salon dan rias pengantin, tentunya juga harus memiliki gaun pengantin adat Kudus dengan berbagai modifikasi agar bisa diterima masyarakat.
Mutrikah mengatakan, dalam rangka memotivasi para perias, Pemkab Kudus juga akan menyiapkan cendera mata untuk perias yang berhasil mempromosikan pakaian adat Kudus sehingga ada warga Kudus yang memakainya saat pernikahan.
Ketua Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Cabang Kudus Fariya Moechla mengakui dengan adanya dukungan pemerintah melalui pendaftaran Haki maupun prosesi pernikahannya sebagai warisan budaya tak benda tentunya akan memotivasi para perias pengantin untuk turut melestarikan adat dan istiadat di Kudus, khususnya gaun pengantinnya.
“Belum semua perias pengantin memiliki gaun khas Kudus karena selama ini yang disediakan tentu sesuai permintaan. Jika sudah dipromosikan dan banyak yang berminat, tentunya mereka juga akan berinvestasi untuk menyediakan baju pengantin khas Kudus dengan modifikasi agar bisa mengikuti perkembangan mode gaun pengantin masa kini,” terangnya.
Gaun pengantin Toto Kaji ini cenderung berwarna putih dan merupakan perpaduan antara budaya Arab, China, dan Eropa. Mempelai pria menggunakan kain penutup kepala panjang berwarna putih, jubah, dan juga celana putih, sedangkan mempelai perempuan menggunakan busana putih panjang dan mahkota penutup kepala seperti budaya China.
Pada era Sunan Kudus pakaian adat pengantin khas Kudus itu masih sering digunakan masyarakat. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman justru kalah dengan pakaian pengantin khas Solo atau Jogjakarta. (san/mal) Editor : Ali Mustofa