Dua sahabat ini memiliki prinsip yang sama dalam memilih pasangan hidup. Mereka berdua ingin punya istri yang cantik, sexy, sekaligus mulus dari atas hingga bawah. Sekaligus bisa mengerti setiap hari. Layaknya seperti film percintaan.
Sebelum memutuskan dan melangkah jauh, Tono (nama samaran) sahabat mereka telah memperingatkan. Bahwa tak perlu berpatokan cantik kalau mencari teman hidup. Cukup dengan setia dan mengerti keadaan.
Selain itu, kata Tono, cantik itu bisa dibentuk. Terlebih lagi salon kecantikan bisa menyulap wajah menjadi mulus. Namun nasehat itu dihiraukan oleh kedua sahabatnya itu.
Ramos dan Jastro akhirnya memutuskan pilihannya. Mereka meminang gadis yang sesuai tipenya. Cantik, bahenol, pokoknya sempurna.
Awal-awal pernikahan mereka berdua berjalan lancar. Hubungan berjalan harmonis. Keseharian mereka penuh dengan canda tawa sekaligus kemesraan sering ditunjukkan pasang itu.
Berjalannya waktu, tepat tiga tahun umur pernikahan rumah tangga mereka berdua mulai tak harmonis. Hal ini diduga dipicu Jastro tak mampu menuruti keinginan istri. Salah satunya hasrat ingin belanja dan nyalon.
Singkat cerita, bendera putih dikibarkan oleh Jastor dan Ramos. Ia tak kuat menahan beban yang dipikulnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk pisah selamanya. Sementara Ramos masih kuat menahan ujian yang diterimanya.
Berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangga Tono. Ia dan istrinya adem ayem. Tono memilih istri yang dianggapnya tepat. Biasa saja dan bisa mengerti dirinya. (gal/zen) Editor : Ali Mustofa