Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Lebih Dekat Sejarah Klenteng di Kudus yang Berkaian Erat dengan Akulturasi Budaya

Abdul Rokhim • Jumat, 23 September 2022 | 02:18 WIB
Photo
Photo
KUDUS – Keberadaan klenteng di Kudus berawal dari warga Tiongkok yang singgah di Kudus. Adapun klenteng tertua yakni Hok Tik Bio Tanjung Karang, Kecamatan Jati, yang dibangun pada abad 14.

AKULTURASI BUDAYA: Perayaan Bwee Gee di Klenteng Hok Hien Bio Kudus yang muncul dalam tradisi masyarakat Tionghoa. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)
AKULTURASI BUDAYA: Perayaan Bwee Gee di Klenteng Hok Hien Bio Kudus yang muncul dalam tradisi masyarakat Tionghoa. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)


Pengamat Sejarah Sancak Dwi Supani menceritakan, sejarah Hok Tik Bio didirikan pada tahun 1741 oleh orang-orang Tiongkok yang berhasil meloloskan diri dari Batavia (Jakarta), akibat pembunuhan massal yang dilakukan oleh VOC (Verenigde Oost-Indische Compagni).

Gubernur Jendral pada waktu itu adalah Adriaan Valckenier, seorang keturunan Belanda-Inggris, yang memangku jabatan dari tahun 1737 – 1741, kemudian diganti oleh Johannes Thedens 1741-1743.

Pelarian orang-orang Cina dari Batavia tersebut dapat meloloskan diri dengan menggunakan jalur laut dan kemudian memasuki muara-muara terus masuk ke sungai-sungai besar ke pedalaman, di antaranya ke CirebonTegalSemarangKudus, Juwana, Rembang, Lasem bahkan juga di Jawa Timur.

Di Kudus mereka melalui kanal Semarang (Kali yang ada di tepi jalan Semarang-Tanggulangin) dari cabang sungai Tanggulangin mereka meneruskan ke Utara dan sampailah di tepi sungai di Dusun Bogo.

Karena dirasa sudah aman, pimpinan rombongan mendarat dan melakukan sembahyang dan Puak kepada Thian Kung, untuk menyakan apakah rombangan dapat mendarat dan bertempat tinggal di tempat itu. Atas persetujuan Thian Kung, rombongan mendarat dan bertempat tinggal di Dusun Bogo.

Selain membawa harta bendanya, di antaranya ada yang membawa Arca Pujaannya yaitu Hok Tek Cing Sien. Karena kaum pedagang banyak berhasil dengan niaganya, maka di Dusun Bogo itu lalu dibangun sebuah Klenteng Hok Tik Bio.

Mereka berdagang menuju ke lain daerah (Pati, Juwana, Rembang, Lasem) dengan menggunakan jalur air sampai di kali Babalan, Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan untuk menuju ke kota-kota tersebut.

Setelah Belanda membuat jalan darat menuju ke Purwodadi (Kudus-Purwodadi), pada tahun 1782 orang-orang Tiongkok di Dusun Bogo kemudian berpindah ke tepi jalan dan juga memindahkan klentengnya dengan cara dipanggul bersama-sama secara utuh bentuknya dan diletakkan di tempat yang sama sampai sekarang berada.

Letaknya pun juga sangat strategis, karena dahulu tempat tersebut dijadikan “pelabuhan” bagi pedangan-pedagang Tiongkok dan “pelabuhan” tersebut dari batu “karang” dan batu padas (putih). Karena “pelabuhan” adalah tanjung yang dibuat dari batu karang, maka hingga sekarang dinamakan Tanjung Karang.

”Banyaknya saudagar dari Tiongkok yang datang ke Kudus, menyebar di wilayah Kudus, termasuk Klenteng Hok Ling yang berada kawasan Menara Kudus yang dibangun sekitar abad  dibangun pada abad XV dan Klenteng Hok Hien Bio yang ada di Jalan A Yani,” ungkapnya.

Klenteng Hok Ling masih asli dan dipertahankan sampai sekarang, meski telah mengalami renovasi pada 1889 dan 1976. Bagian bangunan yang masih asli dan masuk khazanah purbakala di antaranya kusen dan pintu masuk, dua buah jendela (kanan dan kiri), empat pintu motif ukiran Cina dan saka dari kayu jati.

Pani mengatakan, tidak banyak yang memahami betul sejarah klenteng ini. Namun Klenteng Hok Ling ini yang keberadaannya menegaskan tingginya toleransi di Kudus. Karena, berada di kawasan Menara Kudus yang mayoritas memeluk agama Islam.

”Klenteng Hok Ling masih digunakan untuk sembahyang umat Tri Dharma. Berada di lingkungan yang sangat kental dengan sejarah Islam. Ini bukti bahwa toleransi di Kudus sangat kuat sekali,” ungkapnya.

Ia juga menceritakan bukti nyata lagi akulturasi budaya di Kudus adanya Langgar Bubrah terletak di RT 2/RW 5, Desa Demangan, Kecamatan Kota. Bangunan cagar budaya itu merupakan simbol akulturasi Hindu ke Islam.

Bangunan ini lokasinya tidak jauh dari Kelenteng Hok Ling Bio yang berada di kawasan Menara Kudus. Pani menjelaskan, Langgar Bubrah dibangun sekitar tahun 1.400an dengan corak Hindu yang kental.

Photo
Photo


Langgar ini dulunya menjadi tempat semedi umat Hindu. Ia juga menerangkan, ada Lingga dan Yoni, yakni Lingga itu menggambarkan simbol laki-laki. Sedangkan Yoni simbol perempuan. Kemudian, ada batu pilarnya juga yang bermotif  Dewa Siwa yang memegang Trisula.

Bangunan ini mulai beralih fungsi menjadi tempat beribadah umat Islam, melalui pengaruh Sunan Kudus. Seiring masuknya Islam yang dibawa Sunan Kudus, bangunan Langggar Bubrah itu dijadikan sebagai surau atau tempat ibadah agama Islam. Hingga saat ini, Langgar Bubrah masih digunakan untuk beribadah. (adv) Editor : Abdul Rokhim
#akulturasi budaya #klenteng #klenteng kudus #Kudus