Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Apa Sih Golok-Golok Mentok? Kerajinan yang Selalu Ada saat Maulid Nabi Muhammad di Kudus

Kholid Hazmi • Sabtu, 27 Agustus 2022 | 16:25 WIB
TELATEN: Salah satu pengrajin membuat golok-golok mentok. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)
TELATEN: Salah satu pengrajin membuat golok-golok mentok. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)
KUDUS – Golok-golok mentok lazim digunakan saat peringatan Maulid Nabi Muhammad di Kudus. Yakni sebagai tempat jajan atau makanan ringan yang dibagikan ke warga.

Photo
Photo


Salah satu pemilik toko yang menjual Golok-golok Mentok Sunjainah, menjelang Maulid Nabi biasanya ramai pesanan. Peminatnya dari dalam kota maupan luar kota. Untuk nilai jualnya bervariasi, ukuran 10 sentimeter dibandrol dengan harga Rp 1.000. Sedangkan, ukuran 15 sentimeter dijual dengan Rp 2.000.

”Kalau tahun lalu saya berhasil menjual lima ribu keranjang. Memang, ramainya musiman, kalau tidak ada moment ya pembelinya sedikit,” ungkapnya.

Warga RT 01/RW 10, Desa Jepang Mbah Kasmijah, salah satu perajin bambu mengaku, ia sudah menekuni profesi itu sejak ia remaja. Meski tak muda lagi masih menyanggupi membuat ratusan golok-golok mentok.

Dalam sehari ia mampu memproduksi 30 hingga 40 keranjang. Cara pembuatannya tergolong mudah. Akan tetapi dibutuhkan keterampilan menganyam. Dia biasanya membeli bambu berjenis Apus.

Per batangnya dibandrol Rp 15 ribu. Menurutnya, satu batang bambu bisa menghasilkan 120 keranjang golok-golok mentok. Kasmijah sudah terbiasa dengan pekerjaan itu. Untuk membelah bambu ia dibantu suaminya. Bambu yang sudah dibelah itu diwarnai menggunakan sumbo. Warnanya hijau dan merah, dibiarkan hingga menerasap dan kering. Dirasa sudah kering, perempuan tua ini mulai menganyam bambu yang sudah ditaburi warna itu.

”Dulu saya masih menerima pesanan golok-golok mentok berukuran jumbo. Diameternya bisa mencapai dua meter. Sementara tingginya mencapai 1,5 meter. Tapi untuk saat ini harus berfikir dua kali. Mengingat kondisi sudah tak lagi muda,” ungkapnya.

Hal yang sama perajin caping kalo yang merupakan pelengkap dari pakaian Adat Kudus. Kamto, anak dari almarhumah Kamsin mengatakan, saat ini membuat caping kalo kalau ada pesanan saja.

”Biasanya ramai pesanan waktu Hari Kartini dan HUT Kabupaten Kudus. Ya, caping ini termasuk legendaris tapi peminatnya juga orang-orang tertentu yang akan ada acar dengan memakai pakaian Adat Kudus,” terangnya.

Plt Kepala Disbudpar Kudus Mutrikah mengatakan, perajin yang ada di Desa Jepang sudah ada organisasinya, karena masuk desa wisata. Yakni bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Dan, pembinaan terus dilakukan, untuk terus meningkatkan potensi-potensi lokal,” jelasnya.

Ia menambahkan, kerajinan bamboo di Desa Jepang tergolong unik dan mengandung unsure budaya. Seperti membuat keranjang golok-golok mentok, caping kalo yang merupakan salah satu pelengkap pakaian Adat Kudus. Kemudian, perajin sangkar burung, besek untuk berkatan dan kerajinan lainnya. (san/lid/adv) Editor : Kholid Hazmi
#golok-golok menthok #kerajinan bambu kudus #wisata kerajinan kudus #wisata kudus