Salah pegiat seni terbang papat asal Desa Besito, Gebog, Kudus Fahrudin mengatakan seni terbang papat memang merupakan kesenian Islami yang sangat klasik. Biasanya, kelompok seni terbang papat pentas pada acara hajatan pernikahan, puputan, khitanan dan juga menjadi salah satu rangkaian acara Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus.
Kalau di daerah Besito/Gebog sendiri, kata dia, rutin menampilkan kesenian terbang papat terbang itu setiap malam Jumat kurang lebih pukul 21.00, di Masjid Hidayatul Abidin Besito, secara rutin. Hingga kini masih aktif.
"Di Besito sendiri, keberadaan kelompok seni terbang papat sudah ada semenjak era 1985," katanya.
Dia juga mengatakan, sebelum adanya eksistensi rebana di Kudus, seni terbang papat sebenarnya sudah ada sebelum itu. Jadi budaya tabuh terbang papat sangat amat klasik. Kebanyakan anggota juga rata-rata para orang tua, bukan anak muda.
"Terbang papat itu memang hanya terdiri dari empat alat terbang (yang ditabuh), dan satu alat yang namanya jidur," katanya.
Jadi alat terbang papat lebih simple daripada alat terbang yang lebih modern seperti sekarang. "Kalau yang sekarang itu dalam satu grup rebana ada alat terbang, jidur, genjring, jifin, tamborin, dan kecrek. Lebih banyak alatnya," ujarnya.
Seni terbang papat itu juga selain memang untuk berdakwah melalui seni tabuh dan bersalawat itu memiliki ciri khas tersendiri untuk gaya ketukan dan suara cengkok lagu. Lagunya lebih terdengar klasik nan njawani. "Seringnya memang tampil di acara buka luwur, punden, khajatan di desa, serta nikahan, semoga generasi selanjutnya dapat melestarikan terbang papat," imbuhnya. (ark/adv) Editor : Ali Mustofa