Khabsyin menganggap anak-anak muda menggemari kesenian modern. Bahkan mereka jarang menyentuh dan berniat menyukai pada kesenian tradisional. Padahal kesenian khas daerah harus dilestarikan agar tidak punah.
Masyarakat diharapkan, memberikan kesempatan kesenian tradisional eksis. Hal ini agar mereka bisa bertahan dan tidak punah.
"Ini solusinya bisa memberikan tanggapan (mengundang di hajatan, Red)" mintanya.
Pelestarian budaya ini juga harus didukung oleh pemerintah. Pemerintah Jawa Tengah telah membentuk Pergub Nomor 32 tahun 2016 tentang peran pemerintah dalam memfasilitasi dan mengembangkan kesenian.
Lewat Pergub tersebut pemerintah turut berperan menjaga dan melestarikan kesenian tradisional itu.
"Saya mendorong pemerintah daerah agar membuat aturan turunan, seperti Perbup atau Perda pelestarian kesenian tradisional," mintanya.
Sementara itu, Sejarawan Kudus, Edy Supratno menyatakan Melihat kesenian tradisional terikat pada wilayah tersebut. Sementara tidak bisa menyalahkan adanya budaya modern yang tidak bisa dibendung. Sebab aksesnya lebih mudah melalui handphone. Zaman dahulu, informasi terkini bisa didapat lebih cepat apabila dekat dengan pelabuhan.
"Tidak bisa menolak hal itu, membangkitkan kesenian tradisional terbangun pada sejarah. Hal ini agar tidak melupakan sejarah," mintanya.
Ia melihat kesenian dan kebudayaan di Kudus berkembang sangat dinamis. Hal ini dilihat dari daftar keorganisasian pegiat seni di Disbudpar Kudus mencapai 300.
Penggerak Kesenian Barongan Kudus, Achmadi menyebut kesenian tradisional itu digemari oleh anak muda. Tiap desa saat ini mempunyai dua hingga lima grup barongan.
"Di Kudus sudah ada 32 grup yang terdaftar barongan, rata-rata mereka adalah pemuda. Di grup saya yang sudah sepuh hanya ada satu orang saja," ungkapnya.
Pihaknya berharap kesenian tradisional barongan diperhatikan oleh masyarakat maupun pemerintah. Sebab barongan di Kudus merupakan bagian dari tradisi.
"Setiap saya melakukan tradisi ruwatan saya baca doa dengan bahasa arab, dan para pemain saya minta baca doa sebisa mereka. Masyarakat jangan salah kaprah dengan tradisi yang ada," ungkapannya. (gal) Editor : Ali Mustofa