Selain gunungan, juga ada kerbau bule yang ikut diarak. Kerbau itu persembahan dari Bupati Kudus Hartopo.
Rute kirab ini dimulai di Pendapa Kabupaten Kudus, Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, melintas Jalan Sunan Kudus, dan finish di Menara Kudus.
Kirab tahun ini diikuti 64 punden dan belik di Kudus yang tersebar di sembilan kecamatan. Para peserta menampilkan gunungan terbaik dari masing-masing wilayahnya. Ada yang memakai pakaian putih plus ikat kepala khas Kudus, pakaian adat Jawa, dan sebagainya.
Acara itu menjadi perhatian masyarakat yang kebetulan atau sengaja hadir di lokasi itu. Masyarakat tumpah ruah sepanjang jalan yang dilewati gunungan. Melihat kemeriahaan dan kekhasan dari masing-masing gunungan.
Beragam gunungan dibawa peserta. Ada sayur-sayuran berupa kacang panjang, terong sawi, buah-buahan, dan aneka jajan lainnya.
Jumlah gunungan itu hanya 10 persen dari jumlah punden dan belik di Kabupaten Kudus yang mencapai sekitar 657.
Di antara peserta punden yang ikut di antaranya Punden Makam Syaikh Abdullah Gringsing, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu; Sumur Kauman, Belik Sri Growong, Kecamatan Kaliwungu; Sendang Pangilon, Desa Terban, Kecamatan Jekulo; dan lainnya.
Aneka buah dan sayuran itu kemudian diserahkan ke Menara Kudus. Semuanya diolah untuk berkatan nasi uyah asem yang dibagikan ke masyarakat, pada saat Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus 10 Muharam di Menara Kudus.
Steering Committee Buka Luwur Punden dan Belik Abdul Jalil mengatakan kirab ini tahun ketiga. Sebelumnya dilaksanakan 2018 dan 2019. Kemudian dua tahun berikutnya vakum.
Pihaknya mengatakan, kirab dari punden dan belik ini sebagai wujud penghormatan kepada Kanjeng Sunan Kudus dan juga rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah di tahun ini.
”Kirab Buka Luwur Punden dan Belik ini wujud dari rasa syukur masyarakat Kudus atas hasil bumi yang diberikan Allah.”
”Kirab ini juga sebagai pemersatu budaya di Kudus. Tidak ada sekat antara Kudus Kulon (Barat) dan Kudus Wetan (Timur). Budaya melebur jadi satu,” ungkapnya.
Bupati Kudus Hartopo mengatakan acara ini bukti bahwa masyarakat menyatu juga dengan Pemerintahan Kabupaten Kudus.
”Prosesi ini akhirnya bisa diselenggarakan lagi. Kegiatan ini bagian wujud syukur atas hasil bumi di Kudus. Budaya dan adat seperti ini terus dilestarikan,” terangnya. (san/zen) Editor : Ali Mustofa