Laki-laki warga Dukuh Winong, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, bercerita awal mula dari setelah mendirikan rumah adat Kudus asli. Setelah selesai, berfikir ingin membuat replika dengan ukuran skala untuk menjadikan inspirasi bagi pemuda agar rumah adat Kudus tetap lestari, setidaknya generasi selanjutanya tahu model rumah Joglo Pencu khas Kudus.
”Karena sekarang juga sudah langka rumah adat Kudus, maka dengan adanya replika anak cucu kita nanti tahu bentuk rumah adat Kudus. Saat ini saja sudah mulai banyak yang tidak tahu apa itu rumah adat Kudus. Sebagian besar masih jarang yang mengetahui secara keseluruhan dan detail,” ungkapnya.
Kalim menambahkan, adanya miniatur berharap bisa memperlihatkan dan menguri-uri budaya lokal kepada generasi muda sekarang dan kedepannya. Ditambahkan, syukur-syukur kalau ada yang mau belajar atau menekuni, menggeluti rumah miniatur sebagai seni karya.
”Saya justru senang dan tak sungkan untuk membantunya. Tujuannya, rumah adat Kudus ini tidak punah. Memang kalau membuat rumah adat Kudus secara keseluruhan mahal, sehingga jarang orang yang membangun rumah adat Kudus,” jelasnya.
Untuk pemasaran sementara dari kalangan pecinta seni yang lebih dominan. Kalim menjelaskan, pembuatan replika rumah adat Kudus membutuhkan lumayan waktu antara satu hingga dua bulan.
”Tergantung kerumitan dan ukir bila ada buyer yang meminta untuk di ukir. Harga juga menyesuaikan, dari Rp 2 juta hingga Rp 20 juta,” jelasnya.
Dia mengatakan, miniatur rumah adat Kudus yang dibuatnya sama persis dengan rumah aslinya dengan skala skala 1:10. Selain bentuk, kandungan filosofinya juga sama persis. Ada soko papat, tumpang songo, gebyok ukir, kere, tiang lanang atau tiang perempuan dan lain sebagainya.
Menurutnya, replika rumah adat Kudus bisa dibongkar pasang, serta rencananya full ukiran untuk dinding luar dan bagian dalamnya. Dia mengaku, tidak mengalami kendala berarti untuk mengerjakannya. Sebab sebelumnya, ia juga pernah bikin miniatur Pendopo Kudus, gazebo, miniatur gebyok dan lainnya. Yang dibutuhkan hanya kejelian dan ketelitian.
Ditempat terpisah, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah mengatakan, perajin mebel seperti Kalim yang peduli tentang budaya Kudus, ini perlu disuport.
”Kesadaran Kalim mengingat rumah adat Kudus sekarang ini sudah jarag dijumpai. Untuk tetap mempertahankan dibuat replikanya. Kami berterima kasih sudah menjadi masyarakat yang peduli tentang budaya. Yang nantinya tetap bisa dikenal generasi masa depan, agar tetap bisa mengenal bentuk rumah adat Kudus,” tandasnya. (san/lid/adv) Editor : Kholid Hazmi