Saat ini tak banyak pengantin di Kudus yang melaksanakan resepsi ataupun akad nikah menggunakan pakaian Toto Kaji. Karena busana tersebut dianggap kuno dan tak kekinian.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) baru-baru ini pengambilan video dan sesi pemotretan pengantin Kudusan. Hal ini sebagai pengingat budaya tempo dulu dan ingin diangkat kembali trend pengantin Kudusan.
Plt Kepala Disdikpora Kudus Mutrikah mengungkapkan, pengantin Kudusan pada masa sekarang dianggap ketinggalan zaman. Padahal, mengandung kearifan budaya di dalamnya. Juga sebagai pengingat budaya tempo dulu.
Ia bercerita, pengantin di Kudus zaman dulu mengenakan pakaian khas Timur Tengah bagi mempelai laki-laki. Sedangkan mempelai perempuan mengenakan pakaian khas Eropa. Pakaian yang diberi nama Toto Kaji merupakan perpaduan antara budaya Arab, Eropa (Portugis), dan Jawa.
Perubahan fashion yang beragam bentuk, secara tak langsung menggeser pakaian Toto Kaji. ”Kalau misalkan, penata rias pengantin sekarang masih kembali mengangkat penganti Toto Kaji, mungkin bisa menjadi keunikan sendiri,” terangnya.
Sisi keunikan pihak laki-laki yang berasal dari Timur Tengah tetap mempertahankan pakaian adat mereka sendiri. Sementara mempelai perempuan pun tetap mengenakan gaun Eropa, yang ketika itu sudah lebih dulu mempengaruhi masyarakat Kudus melalui para pedagang dari Barat.
”Gaun biasanya berwarna biru muda atau warna cerah lainnya. Biasanya untuk akad nikah dan resepsi berbeda,” jelasnya.
Untuk akad nikah, pakaian Kudusan, laki-laki mengenakan kemeja putih dipadankan dengan jaz dan bawahan sarung batik serta memakai peci. Sedangkan mempelai perempuannya mengenakan kebaya bordir Kudus warna putih dan jarik. Dan, tatanan rambut disanggul serta memakai kerudung segi panjang putih.
Ia menambahkan, adapun pengaruh Jawa tentunya ada prosesinya yang beraneka rupa. Masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang sangat berhati-hati dalam hal apapun, termasuk urusan pernikahan.
Namun, saat ini minat masyarakat Kudus terhadap pakaian pengantin adat Kudus dan upacara ritual pernikahan menurun. Bahkan banyak yang telah meninggalkan tradisi tersebut dan lebih memilih pada tradisi yang dianggap lebih modern dan praktis. (san/lid/adv) Editor : Kholid Hazmi