Selepas magrib malam takbiran, warga sudah check sound. Bersiap menggelar takling dengan berbagai pernak-perniknya setelah dua tahun vakum. Kegembiraan menyambut hari kemenangan tersebut, sudah menjadi tradisi tahunan. Hanya berhenti saat pandemi.
Bila sebelumnya hampir selalu dimeriahkan dengan petasan, kini seiring adanya larangan, warga menyewa sound system. Masing-masing mushola dan masjid ambil andil. Sound dipasang di bak-bak truk. Layaknya sound panggung. Ditumpuk hingga memenuhi tinggi bak truk. Dilengkapi lampu pancar LED.
Selepas Isya, gema sounds makin kencang. Dari yang semula menyala di musala dan masjid masing-masing, lantas bergerak. Truk dan sound yang menyala dan bergerak itu menyusuri jalan di gang-gang desa. Ada rute yang telah disiapkan. Truk melaju pelan sembari membunyikan sound diiring warga. Suara takbir dan sesekali musik dangdut, saling saut. Jedug-jedug. Menggetarkan gendang telinga siapapun yang mendengar di dekatnya.
Tiap perwakilan mushola ada sekitar 20-50 warga yang mengiringi jalanya truk. Diikuti dengan warga di belakangnya. Yang perempuan tampak beriringan memakai seragam yang serasi. Sementara beberapa laki-laki dewasa di sampingnya. Untuk laki-laki memegang lampu dan kabel sebagai pencahayaan.
Selain warga, truk sound diiringi replika. Replika itu menyerupai hewan seperti macan, kura-kura, ikan, komodo, monster, buaya, hingga tokoh pewayangan. Ukurannya jumbo, sehingga dibutuhkan sekitar belasan orang untuk mengangkat dengan cara dipikul. Agar lebih hidup, replika itu dibuat menyala. Terpasang lampu kelap-kelip berbagai warna di sekujur kerangka. Juga bisa bergerak, sehingga menyerupai layaknya hidup.
Kepala Desa Kutuk Supardiyono menjelaskan, takling itu tradisi tahunan. Terutama sebelum pandemi. Sempat vakum dua tahun. Untuk tahun ini, penyelenggaraan dibatasi secara jumlah peserta maupun pernak-pernik. ”Kegiatan kali ini warga jalan kaki. Rute warga mengelilingi jalan di desa. Tidak melebar ke desa lain," jelasnya.
Ada 20 kontingen. Sebenarnya total ada tiga masjid dan 20 musala. Namun beberapa yang tidak ikut. Rata-rata peserta satu kontingen berjumlah 50 orang. Dengan mematuhi prokes, seperti mamakai masker. ”Sebelum takbir keliling mayoritas warga telah divaksin. Itu juga untuk mendorong capain vaksinasi pemerintah. Di Desa Kutuk vaksin dosis II sudah 90 persen. Untuk vaksin ketiga 40 persen,” ungkapnya.
Untuk biaya pembuatan replika dan sewa sound system dari iuran warga. Dari replika ada yang menelan dana Rp 5-10 juta. Bila dikalkulasi, dana seluruhnya yang dikeluarkan tahun ini mencapai Rp 200-300 juta untuk takling. Pengeras suara itu, disewa baik dari Jawa Tengah sendiri hingga Jawa Timur.
Kemeriahan dengan replika raksasa dan kerlap-kerlip juga ada di Grobogan. Namun jumlahnya tak banyak. Seperti di Desa Toko, Penawangan. Ada tiga replika bentuk naga, burung merak, dan macan. Ratusan warga mengumandangkan takbir sambil keliling membawa replika itu.
Kepala Desa Toko Edi mengatakan, meski tak ada hadiahnya, warga mengikuti takling dengan antusias. Bahkan ogoh-ogoh tersebut dibuat dengan menggunakan iuran sendiri sampai jutaan rupiah. ”Iya namanya warga membuat, kami dukung. Ini dari warga sendiri dan desa hanya berikan izin,” terangnya.
Takling juga digelar di Desa Kluwan, Penawangan. Ada juga replika hewan raksasa seperti burung merak, naga, laba-laba, ikan, dan kelelawar. (tos/mun/lin) Editor : Ali Mustofa