Dari pantauan wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini ke lapangan, rumah Sutikah berada di tengah permukiman. Terhimpit oleh rumah-rumah tetangga. Akses keluar masuk hanya bisa melalui depan rumah Sunarsih. Tetapi sejak dua hari belakangan akses itu tertutup tembok yang dibangun keluarga Sunarsih.
Baca Juga : Mediasi Gagal, Warga di Kudus Yang Jalan Rumahnya Ditembok Akhirnya Pindah
Sunarsih menjelaskan membangun tembok berukuran 9x2,5 meter itu sejak dua minggu lalu. Pihaknya sengaja membagun itu karena kecewa pada keluarga Sutikah. Sebab dianggap berperilaku kurang baik dan ucapannya sempat beberapa kali menyakiti perasaan keluarga Sunarsih.
Sunarsih mengaku sebelum membangun tembok itu dia telah menanam pohon kelapa di lokasi tembok berdiri.
”Saya selalu disalahkan karena tanaman itu dianggap mengganggu genting Sunarsih. Padahal pohonnya tidak tinggi," jelasnya.
Selain persoalan itu, keluarga Sutikah dianggap kerap mengeluarkan kata-kata yang menyinggung dan menyakiti hati keluarga Sunarsih. Di antaranya seperti menyumpahi suami Sunarsih yang meninggal masuk neraka.
"Semula masih sabar, tapi lama-lama habis. Toh kami membangun di tanah kami sendiri," tambahnya.
Dia memang menyadari sejauh ini Sutikah lewat di depan rumahnya. Itu bukan jalan, tetapi dibiarkan untuk dilewati karena itu akses satu-satunya jalan keluar masuk menuju rumah Sutikah.
Abdul Rosyid, 62, menyebut Sutikah memang dinilai beberapa tetangga bertabiat agak kurang baik. Sehingga membuat orang lain terkadang marah.
”Dulu ya jalan itu dilewati gak apa-apa. Tetapi ini kan baru beberapa hari lalu. Jadi seharusnya Sutikah introspeksi diri. Kenapa tetangganya sampai berbuat seperti itu," katanya.
Dia menilai dengan terbatasnya tanah dan semua akses jalan tertutup, harusnya Sutinah bertetangga dan menjalin hubungan baik dengan keluarga Sunarsih. Bukan justru sebaliknya. Berperilaku dan bersifat keras.
Karena rumahnya terjepit, Sutikah sempat meminta bantuan ke adik Abdul Rosyid. Rumahnya di depan rumah Sutikah, agar rumah itu dibeli.
Namun Sutikah mensyaratkan agar dia dicarikan rumah dan tanah di tempat lain. Syarat itu dinilai memberatkan adik Abdul Rosyid. Sehingga tawaran itu tidak dapat penuhi.
”Terkait penembokan itu ya mungkin sudah habis puncak kesabaran keluarga Sunarsih," imbuhnya.
Sutikah sendiri merasa kecewa dengan ditutupnya satu-satunya akses jalan itu. Menurutnya meski memang tak ada kesepakatan dan berada di tanah milik keluarga Sunarsih, jalan itu ada sejak puluhan tahun lalu.
Untuk itu, ia pun mencari keadilan agar tetap bisa mendapatkan akses jalan. Sebab dengan penembokan itu dirinya tak bisa masuk ke rumah.
”Sudah dua hari ini saya numpang di rumah saudara. Gak bisa masuk. Kemarin-kemarin masih bisa lewat. Tapi sekarang tidak bisa," katanya.
Dia pun mengakui kesalahan dan siap minta maaf kepada keluarga Sunarsih. Agar bisa kembali mendapatkan akses jalan dan bisa keluar masuk rumah.
“Kulo sadar tiyang mboten gadah. Tidak punya. Namung saget nunut. Amargi Rondo. Niku griyo tinggalan tiyang sepuh (Saya sadar orang tidak punya. Hanya bisa ikut. Karena saya janda. Itu rumah peninggalan orang tua saya, Red),” imbuhnya.
Camat Mejobo Fitriyanto menerangkan akan segera menyelesaikan persoalan itu. Pihaknya kemarin sore langsung memediasi kedua keluarga yang bersangkutan. ”Ini ada unsur persoalan pribadi. Sehingga kami mediasi kedua belah pihak,” tambahnya.
Mediasi itu ditempuh agar tercapai win-win solution. Yang bisa diterima kedua keluarga.
”Kami upayakan solusi biar ada jalan keluar. Sehingga nantinya ada solusi akses jalan masuk ke rumah Bu Sutikah dengan dibuatkan pintu. Dan kami harapkan kedua keluarga bisa bertetangga dengan baik,” terangnya. (zen)
Editor : Ali Mustofa