Hal itu lantaran kurang adanya pengecekan secara detail. Sebab sebelumnya sepedanya pernah jatuh. Insiden itu membuat drop bar sepeda retak.
”Pengecekan harus detail. Jangan ada yang terlewat. Kalau bisa dibuka satu per satu,” ungkapnya.
Beruntung, jatuhnya tidak terlalu parah. Karena Dede telah memakai pelatab safety riding. Salah satunya helm bersepeda.
Tidak hanya helm, penggunaan sarung tangan dirasa perlu. Itu untuk menghindari pergelangan tangan agar tidak licin.
Penggunaan alat pengukur heart rate sangat diperlukan. Menurutnya alat tersebut salah satu unsur terpenting. Sebab mampu mengukur kekuatan jantung saat bersepeda.
”Ada ambang batasnya kekuatan jantung, cara menghitungnya 220 dikurangi usia. Apabila melewati batas diharapkan bisa untuk rehat sejenak,” katanya.
Disarankan goweser tidak memaksakan ketika kekuatan jantung melebihi ambang batas. Sebab akan berakibat fatal, seperti pingsan bahkan meninggal.
Saat bersepeda penyiapan air di atas sepeda sangat diperlukan untuk mengurangi rasa dahaga. Selain itu, camilan juga diperlukan, untuk suplai pengganti kalori yang telah terbuang.
Perlunya pelindung mata, seperti kaca mata sering dipakai Diana saat gowes. Pemakaian jersey yang sifatnya aerodinamis dan mampu menyerap keringat sangat dibutuhkan. Didukung pula pemakaian sepatu cleat membuat gowes lebih optimal sekaligus energi yang tersalurkan akan efektif.
Dirinya berharap para goweser bisa memahami dan menyiapkan diri secara matang sebelum bersepada. Hal ini untuk mencapai sebuah keamanan, kebugaran, dan kenyamanan pada tubuh. (zen) Editor : Ali Mustofa