Direktur Teknik (Dirtek) Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Muria Yan Laksmana menyatakan sebelumnya pembangunan tahap kedua direncanakan pada 2022 ini. Pada tahap pertama pembangunan memfokuskan pada pembentukan glass tank atau tempat penampungan air.
Keputasan itu, dikatakan oleh Yan Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Tengah menunda pembangunan lantaran dimungkinkan terjadi refokusing anggaran.
Sementara pada pembangunan tahap kedua ini, direncanakan akan mendirikan Water Treatmen Plant (WTP) atau pembangunan alat pengolahan air dari logung.
“Itu anggarannya dari pusat, dari perencanaan awal bisa digunakan pada tahub 2024. Namun ada penundaan pekerjaan jadi bisa digunakan 2025 nanti,” terangnya.
Dia mengatakan, secara keseluruhan pembangunan dan pemanfaatan air baku itu dianggarkan sebesar Rp 180 miliar. Daya tampun air pada glass tank itu sebanyak 5 ribu meter kubik.
Jika pengolahan air baku itu jadi, dipastikan bisa menyalurkan sebanyak 16 ribu saluran rumah (SR) di empat kecamatan. Yakni, di Kecamatan Bae, Kota, Jekulo, dan Mejobo.
"Limpahan air dari Logung kecepatannya sebesar 200 liter per detik bisa ngaliri empat kecamatan," katanya.
Lebih lanjut, ketika pengolahan WTP itu perlu didukung dua tangki penampungan air di Hongosoco dan Terban. Kedua tangki itu nantinya sebagai penampung untuk dialirkan ke empat kecamatan tersebut.
Terkait aliran ke Kecamatan Dawe, pengolahan air baku di Logung itu dipastikan belum bisa. Lantaran harus menggunakan alat pendukung berupa booster untuk memompa air.
Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Penyedia Air Baku, Chanif menyebut pembangunan glass tank tersebut sudah selesai. Pembangunan yang menggunakan sumber dana APBN itu menelan Rp 3,1 miliar.
“Tahun ini kami melakukan perawatan menjamin fungsinya maksimal. Jadi untuk pembangunan WTP itu kewenangannya BPPW Jateng,” katanya. (mal) Editor : Ali Mustofa