Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

DBD di Kudus Terus Meningkat, DKK Catat Ada 125 Kasus, Tiga Meninggal

Ali Mustofa • Sabtu, 27 November 2021 | 17:07 WIB
(MAHENDRA ADITYA/RADAR KUDUS)
(MAHENDRA ADITYA/RADAR KUDUS)
KUDUS – Kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) di Kudus terus bertambah. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencacat, mulai Januari- November 2021, ada 125 kasus DBD, tiga di antaranya meninggal dunia.

Kepala DKK Kudus Badai Ismoyo melalui Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Nuryanto mengatakan, intensitas hujan mulai sering terjadi. Secara keseluruhan kasus DBD 2021 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2020.

“Tahun lalu kasus DBD di Kudus hanya ada 40 kasus. Januari sampai November tercatat ada 125 kasus. Ada peningkatan jumlahnya,” jelas Nuryanto

Dia mengatakan, angka kematian akibat DBD mengalami penurunan. Dari tahun 2020, berjumlah lima orang, sedangkan saat ini baru ada tiga kasus meninggal dunia. Supaya tidak terjadi kenaikan pesat kasus meninggal, DKK memperingatkan kader Jumantik untuk rutin sosialisasi kepada masyarakat.

“Semoga angkanya tidak bertambah sampai tutup tahun,” imbuhnya.

Nuryanto menjelaskan peningkatan kasus DBD tahun ini dipengaruhi beberapa faktor,  seperti curah hujan yang relatif tinggi dibandingkan dengan tahun lalu, serta dampak penerapan screening dengan rapid DBD.

Diketahui screening DBD diberlakukan di puskesmas-puskesmas mulai tahun ini. Dari proses screening ini, para penderita DBD dengan mudah terdeteksi. Penderita DBD pun segera mendapat penanganan medis, sehingga tak sampai masuk ke fase kritis.

“Selama ini kasus kematian akibat DBD terjadi karena keterlambatan penanganan. Penderita tidak menyadari jika gejala yang dialami merujuk ke DBD, dikiranya demam biasa,” katanya.

Seringnya saat masuk fase kritis baru dirujuk ke rumah sakit. Ini yang menyebabkan angka kematian akibat DBD tinggi. Ini yang coba tekan dengan penggiatan rapid DBD. Menurut Nuryanto, kematian akibat DBD rata-rata terjadi pada anak usia dibawah 12 tahun. Sebagian besar mereka meninggal saat proses rujukan ke rumah sakit. Hal ini juga terjadi pada tiga kasus kematian akibat DBD di Kudus.

Untuk itu, Nuryanto mengingatkan masyarakat Kudus untuk tidak menyepelekan demam yang dialami anak-anak. Sebab bisa jadi, demam tersebut merupakan gejala dari infeksi virus dangue.

“Kalau anaknya demam, tolong diperiksakan ke puskesmas minta dirapid DBD, pelayanannya gratis. Jangan asal beli obat demam. Takutnya, kalau itu DBD terlambat terdeteksi, masuk fase kritis kemungkinan sembuhnya tipis,” pesan Nuryanto. (mal)

  Editor : Ali Mustofa
#dkk kudus #rapid dbd #meninggal dunia #dinas kesehatan