Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gusjigang dalam Ulang Tahun ke-472 Kudus

Ali Mustofa • Selasa, 2 November 2021 | 17:50 WIB
Photo
Photo
TIDAK hanya sebagai kota kretek, tetapi Kudus juga menjadi salah satu kota tujuan wisata religi, karena kota kudus sangat kental dengan nuansa agama Islam karena sejak abad pertengahan kota kudus menjadi salah satu pusat perkembangan agama islam di pulau jawa, dengan peninggalan masjid menara kudus oleh Sunan Kudus dan beberapa budaya yang menjadi ikon bagi kota Kudus. Di Kudus ini juga terdapat makam Sunan Kudus yang berlokasikan di sebelah barat masjid menara Kudus. Kota Kudus adalah kota dengan peninggalan perpaduan budaya yang cukup unik.

Dilihat dari bangunan masjid menara itu sendiri sudah dapat terlihat bahwa bangunan tersebut tidak hanya dibangun dengan arsitektur agama islam saja, tetapi juga dibangun dengan arsitektur agama hindu. Bangunan dengan 7.505 meter persegi tersebut juga memiliki prasasti dengan bahasa arab yang konon didatangkan dari Baitul Maqdis sehingga bangunan masjid ini juga sering disebut dengan Masjid Al Aqsa.

Sunan Kudus tidak mendirikan bangunan ini begitu saja namun menjadi bentuk toleransi antar agama yang diajarkan oleh sunan Kudus kepada pengikutnya, contoh budaya yang berkembang di Kudus sampai saat ini adalah larangan untuk menyembelih sapi karena hewan berkaki empat tersebut merupakan hewan yang dianggap suci oleh masyarakat beragama hindu, sehingga hal tersebut juga terlihat pada kuliner kota Kudus yang cenderung menggunakan daging kerbau.

Masjid Menara Kudus juga didirikan dengan Rajah Kalacakra yang dipasang di atas pintu gerbang depan yang dipercaya oleh masyarakat kota Kudus sebagai peluntur jabatan bagi pejabat bila menyalahgunakan amanah yang sudah diberikan. Sunan Kudus juga mengajarkan pada penganutnya agar tidak selalu mementingkan kepuasan terhadap duniawi saja tetapi juga harus mementingkan dunia akhirat lewat “gusjigang” ini masyarakat diharapkan dapat memiliki akhlak yang bagus, rajin mengaji, dan pandai berdagang.

Bila disatukan ketiga ajaran tersebut akan membentuk kata “gusjigang”, gus yang berarti bagus, ji yang berarti mengaji, dan gang yang berarti berdagang. Kota yang telah berumur 472 tahun ini memiliki banyak daya tarik di dalamnya. Selain pariwisatanya yang beragam kota Kudus juga memiliki kuliner yang tidak kalah menarik dengan kota-kota besar lainnya. Bila pengunjung atau wisatawan sedang berada di Kota Kretek ini maka dapat menikmati lentog yang biasa dijadikan makanan diawal hari atau sarapan, hanya dengan kurang lebih lima ribu rupiah wisatawan sudah dapat menikmati potongan lontong dengan sayur gori dan lodeh tahu.

Serta pada siang hari wisatawan dapat menikmati soto kerbau sebagai penendang lidah, kuliner dengan berbagai rempah ini akan disajikan dengan potongan daging kerbau dan akan dicampur dengan taoge serta taburan bawang goreng dan disiram dengan kuah yang tentunya memiliki banyak rempah. Wisatawan yang hendak melakukan wisata religi pada kota Kudus ini tidak akan merasa bosan karena wisata-wisata religi yang ada di kota Kudus ini tidak hanya di tengah kota saja tetapi banyak wisata juga berada di tengah alam. (Agata Valencia Ke’nuy Sulistiyanto, Mahasiswi Universitas Mercu Buana Jogjakarta) Editor : Ali Mustofa
#hut ke-472 kudus #kuliner #wisata religi #sunan kudus #gusjigang