Secara umum, sarpras dan armada milik BPBD Kudus cukup lengkap. Yakni memiliki satu unit ambulans, dua mobil jenazah, dua mobil dobel kabin, satu mobil evakuasi, satu unit pemadam kebakaran, dua mobil tangki air, lima perahu, alat selam, dan 100 pelampung. Namun demikian, beberapa di antaranya sudah tua.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pelaksana BPBD Kudus Budi Waluyo. Menurutnya, untuk armada diakuinya mobil-mobil saat ini sudah tua. Sehingga perlu peremajaan atau pembaharuan. ”Mobilitas kami cukup tinggi dan medan berat. Jadi sampai-sampai kadang ada armada yang mogok di jalan. Untuk itu, perlu peremajaan,” jelasnya.
Namun demikian, Budi mengakui tahun ini hal tersebut urung dilakukan. Ini karena anggarannya terbatas. “Untuk kebencanaan di anggaran APBD murni, cuma Rp 1,5 miliar. Jadi untuk peremajaan armada mungkin kita ajukan di anggaran perubahan nanti,” ungkapnya.
Selain armada, persoalan kedua yang dihadapi pihak BPBD Kudus personel. Budi mengakui jika secara jumlah terbatas. Untuk itu, pihaknya sedang berupaya mengoptimalkan peran relawan.
Saat ini sedang diupayakan mengoptimalkan relawan di tiap-tiap kecamatan. Jumlahnya sekitar 100-an di tiap kecamatan. Mereka dibekali pelatihan sesuai potensi kebencanaan di masing-masing wilayah. ”Ujung tombak kami adalah relawan. Peran mereka sangat penting, untuk itu kita optimalkan dengan mengadakan pelatihan,” tandasnya.
Para relawan ini menurut Budi sudah terbentuk. Akan tetapi, kadang terkendala waktu. Beberapa di antara mereka sambil bekerja. Jadi terkadang saat ada peristiwa, mereka sedang kerja. Sehingga tidak bisa terlibat aktif.
Untuk itu, pihak BPBD akan terus menggiatkan terkait pembentukan dan keaktifan relawan. Sembari melakukan pelatihan keterampilan dan mitigasi bencana.
Beberapa yang telah dilakukan adalah di wilayah-wilayah yang berpotensi banjir. ”Di antaranya di Kaliwungu, Jati, Undaan, dan Mejobo. Kami ajak mereka untuk membersihkan sungai dari sampah,” lanjutnya. (zen) Editor : Ali Mustofa