Kepala Dinas Perdagangan Kudus Sudiharti menjelaskan, empat pasar itu yakni Pasar Ngemplak, Wates, Undaan Kidul, dan Pasar Kalirejo. Pedagangnya juga tidak menetap di satu pasar, mereka berpindah-pindah.
“Pasar Kalirejo sebenarnya menjadi pasar induk, namun pedagangnya kalau jualan masih berdasarkan pasaran itungan jawa dan sering kali berpindah-pindah tempat. Ya, ada beberapa yang menetap, tapi sedikit dan kalau siang hari sudah sepi,” jelasnya.
Dia mengatakan, Pasar Undaan Kidul (pasaran) juga masih kurang efektif. Sedangkan Pasar Ngemplak dan Wates yang tiap hari jualan jaraknya jauh bagi masyarakat yang berada di wilayah Larikrejo dan Desa Kutuk.
Dia berencana menambah pasar di Desa Kutuk. Biar bis amenjangkau wilayah sana. “Lebih baik Pasar Undaan Kidul dan Ngemplak ditutup saja. Kedua pasar itu kurang efektif,” sarannya.
Selain itu, Sudiharti juga menyoroti keberadaan pasar yang dikelola desa tanpa koordinasi dengan Dinas Perdagangan. Yakni Pasar Undaan Kidul.
“Lama-lama nanti kondisi pasar akan seperti sekolah SD. Yakni banyak sekolah tapi sepi murid, seperti halnya pasar yang tanpa koordinasi dengan Dinas Perdagangan. Akan banyak pasar tapi sepi pembeli,” jelasnya.
Seharusnya, kata dia, keberadaan pasar harus dihitung dari jumlah penduduk di wilayah itu dengan kebutuhan pasar yang ada dan jangkauan masyarakat. Di Kudus banyak pasar yang di kelola desa, seperti Pasar Jepang di Desa Mejobo dan Pasar Burikan. Editor : Ali Mustofa