Seblak Pedas Jadi Favorit, tapi Apa Efeknya jika Terlalu Sering Dimakan?

Azka Ilham Najan • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 10:50 WIB
Semangkuk seblak pedas yang digemari masyarakat, tetapi perlu dikonsumsi secara bijak agar tidak memicu keluhan pencernaan.
Semangkuk seblak pedas yang digemari masyarakat, tetapi perlu dikonsumsi secara bijak agar tidak memicu keluhan pencernaan.

RADAR KUDUS – Seblak menjadi salah satu kuliner bercita rasa pedas yang digemari banyak orang.

Perpaduan kerupuk kenyal, bumbu rempah, cabai, dan berbagai pilihan topping membuat makanan ini semakin menarik, terutama bagi pencinta sensasi pedas.

Namun, kebiasaan mengonsumsi seblak dengan tingkat kepedasan tinggi dan porsi besar dapat memicu keluhan pencernaan pada sebagian orang.

Salah satu keluhan yang mungkin muncul adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati serta sensasi panas di dada.

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan refluks asam, yaitu ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan.

Meski demikian, reaksi setiap orang berbeda, bergantung pada kondisi pencernaan dan sensitivitas terhadap makanan tertentu.

Cabai mengandung capsaicin, senyawa yang memberikan sensasi panas dan pedas.

Baca Juga: Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp132.850 per Kg, Ini Daftar Harga Pangan 12 Oktober 2026

Pada sebagian orang, kandungan tersebut dapat memicu rasa terbakar atau memperburuk keluhan pencernaan yang sudah ada.

Bagi orang yang rentan mengalami refluks asam atau gastroesophageal reflux disease (GERD), makanan pedas dapat menjadi salah satu pemicu gejala, meskipun tidak semua orang mengalami reaksi yang sama setelah mengonsumsinya.

Selain tingkat kepedasan, porsi seblak juga perlu diperhatikan. Mengonsumsi makanan dalam jumlah besar dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya refluks pada orang yang rentan.

Tambahan minyak, saus, atau topping berlemak juga bisa memicu keluhan pada sebagian orang.

Karena itu, rasa tidak nyaman setelah makan seblak tidak selalu disebabkan oleh cabai saja, tetapi dapat dipengaruhi oleh jumlah dan komposisi makanan yang dikonsumsi.

Pencinta seblak tidak selalu harus menghindari makanan ini sepenuhnya.

Mengurangi tingkat kepedasan, memilih porsi secukupnya, dan memperhatikan bahan yang memicu keluhan dapat menjadi langkah untuk mengurangi ketidaknyamanan.

Orang yang rentan mengalami refluks juga disarankan untuk tidak langsung berbaring setelah makan.

Memberi jarak sekitar tiga jam sebelum berbaring dapat membantu mengurangi gejala, terutama pada malam hari.

Jika nyeri ulu hati atau sensasi panas di dada sering berulang, tidak membaik, atau disertai kesulitan menelan dan muntah terus-menerus, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.

Nyeri dada yang berat atau baru muncul juga perlu mendapatkan pertolongan segera karena tidak selalu disebabkan oleh refluks asam.

Pada akhirnya, menikmati seblak perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

Memilih tingkat kepedasan yang sesuai dan mengontrol porsi makan dapat membantu mengurangi risiko keluhan, terutama bagi orang yang sensitif terhadap makanan pedas.

Editor : Ali Mustofa
seblak pedas dampak seblak bagi lambung makanan pedas refluks asam nyeri ulu hati