Mengenal Intermittent Fasting: Metode Diet Puasa, Metode Tren, dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Ghina Nailal Husna • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 18:45 WIB
Mengenal Intermittent Fasting: Metode Diet Puasa, Metode Tren, dan Manfaatnya Bagi Kesehatan
Ilustrasi Intermittent Fasting

RADAR KUDUS - Metode diet puasa berkala atau yang lebih populer dengan sebutan Intermittent Fasting (IF) menjadi salah satu tren gaya hidup sehat yang paling diminati.
 
Berbeda dengan program diet konvensional yang berfokus pada pembatasan jenis dan porsi makanan (what you eat), intermittent fasting berfokus pada pengaturan jadwal jam makan (when you eat).

Metode ini dinilai efektif dan relatif mudah dijalankan karena tidak serta-merta melarang seseorang mengonsumsi makanan favorit mereka, melainkan mengatur jendela waktu (eating window) dan masa puasa (fasting window).
 
Baca Juga: Gaji PNS dan Pensiunan Bakal Dibayar Lewat Koperasi? Ini Jawaban Kemenkeu

3 Metode Popular Intermittent Fasting

Terdapat beberapa variasi pola intermittent fasting yang paling sering diterapkan:

1. Metode 16/8 (Paling Populer)

Metode ini membagi waktu 24 jam menjadi 16 jam berpuasa dan 8 jam jendela makan. Sebagai contoh, seseorang mulai makan pada pukul 12.00 siang dan diperbolehkan makan hingga pukul 20.00 malam.
 
Setelah pukul 20.00, orang tersebut wajib berpuasa hingga pukul 12.00 siang keesokan harinya.

Metode ini paling digemari karena sebagian besar masa puasa berlangsung saat tidur malam. Selama periode puasa 16 jam, konsumsi air putih, kopi hitam tanpa gula, atau minuman bebas kalori tetap diperbolehkan.

2. Metode Eat-Stop-Eat

Metode ini mewajibkan seseorang untuk melakukan puasa total selama 24 jam penuh, sebanyak 1 hingga 2 kali dalam seminggu.
 
Contohnya, jika Anda makan terakhir pada pukul 20.00 malam hari ini, Anda baru diperbolehkan makan kembali pada pukul 20.00 malam keesokan harinya. Metode ini terbilang lebih menantang karena membutuhkan kontrol rasa lapar yang kuat.

3. Metode 5:2

Pada metode ini, Anda dapat makan secara normal selama 5 hari dalam seminggu. Namun, pada 2 hari sisanya, asupan kalori dibatasi secara ketat, yaitu hanya sekitar 500 hingga 600 kalori per hari.
 
Penerapan metode ini membutuhkan kedisiplinan tinggi dalam menghitung dan mengukur jumlah kalori makanan yang dikonsumsi.

Manfaat Intermittent Fasting untuk Penurunan Berat Badan

Mengapa intermittent fasting sangat efektif bagi orang yang ingin menurunkan berat badan?

  1. Penurunan Kadar Insulin: Saat berpuasa, kadar hormon insulin dalam tubuh akan menurun secara signifikan. Penurunan insulin ini memudahkan tubuh untuk membakar simpanan lemak menjadi energi.
  2. Peningkatan Growth Hormone: Puasa berkala dapat merangsang peningkatan hormon pertumbuhan (Human Growth Hormone / HGH) yang berperan penting dalam pembakaran lemak dan pembentukan massa otot.
  3. Defisit Kalori Secara Alami: Dengan membatasi jam makan, secara otomatis jumlah kalori harian yang masuk ke dalam tubuh menjadi lebih terkontrol dan cenderung berkurang, sehingga mempercepat proses pembakaran berat badan.

Baca Juga: Ruko Minuman di Sekaran Gunungpati Semarang Terbakar, Penyebab Belum Diketahui

Kesimpulan

Intermittent fasting menawarkan pendekatan diet yang fleksibel dan berkelanjutan untuk menurunkan berat badan serta memperbaiki metabolisme tubuh. Memilih metode yang paling sesuai dengan pola hidup dan kondisi kesehatan harian adalah kunci utama keberhasilan menjalankan program diet ini. (*)
Editor : Mahendra Aditya
cara menurunkan berat badan cara intermittent fasting manfaat diet puasa berkala metode diet 16 8 tips defisit kalori alami