RADAR KUDUS – Keracunan makanan bisa terjadi tanpa disadari setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi.
Kondisinya dapat menyerang siapa saja dan gejalanya tidak selalu muncul segera setelah makan.
Makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, maupun zat berbahaya dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Gejala yang muncul juga bergantung pada jenis kuman atau zat penyebabnya.
Gejala keracunan makanan yang perlu dikenali
Beberapa keluhan yang umum terjadi ketika seseorang mengalami keracunan makanan antara lain mual, muntah, diare, sakit atau kram perut, serta demam.
Gejala tersebut dapat berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung penyebabnya.
Diare dan muntah juga dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan.
Baca Juga: BLT Dana Desa Bisa Cair Sekaligus Rp900 Ribu, Begini Cara Menerimanya
Karena itu, orang yang mengalami keluhan tersebut perlu memperhatikan tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut kering, jarang buang air kecil, rasa haus berlebihan, atau pusing saat berdiri.
Tidak selalu langsung terasa setelah makan
Salah satu hal yang perlu diketahui adalah keracunan makanan tidak selalu membuat seseorang langsung sakit setelah menyantap makanan tertentu.
Menurut CDC, beberapa jenis kuman dapat menimbulkan gejala hanya dalam hitungan jam.
Namun, penyebab lainnya membutuhkan waktu lebih lama.
Misalnya, gejala Salmonella dapat muncul sekitar 6 jam hingga 6 hari setelah paparan, sedangkan Campylobacter umumnya muncul 2–5 hari kemudian.
Karena itu, ketika mengalami gejala keracunan makanan, makanan yang menjadi penyebab belum tentu merupakan makanan terakhir yang dikonsumsi.
Kapan harus segera mencari pertolongan?
Tidak semua kasus keracunan makanan memiliki tingkat keparahan yang sama.
Masyarakat perlu lebih waspada apabila muncul gejala berat seperti diare berdarah, diare yang berlangsung lebih dari tiga hari.
Kemudian demam tinggi, muntah terus-menerus hingga sulit mempertahankan cairan, atau tanda-tanda dehidrasi.
Pada kondisi tersebut, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui kondisi dan penanganan yang sesuai.
Siapa yang perlu lebih waspada?
Keracunan makanan dapat dialami siapa saja.
Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami sakit parah, termasuk anak-anak di bawah lima tahun, orang berusia 65 tahun ke atas, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Baca Juga: 13 Siswa Diduga Keracunan Menu MBG, SPPG Desa Tutup Blora Kena Sanksi Penghentian
Menjaga kebersihan tangan, mencuci bahan makanan, serta memastikan makanan dimasak dan disimpan dengan benar menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko penyakit akibat makanan.
Dengan mengenali gejalanya sejak awal, seseorang dapat lebih cepat menyadari adanya gangguan setelah mengonsumsi makanan dan mengambil langkah yang tepat, terutama jika keluhan semakin berat.
Editor : Ali Mustofa