RADAR KUDUS - Di tengah menjamurnya beragam pilihan kuliner modern, pola makan masyarakat Indonesia dewasa ini dihadapkan pada ancaman serius.
Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta karbohidrat olahan tanpa disadari telah mengintai kesehatan metabolisme tubuh, mulai dari ancaman obesitas, prediabetes, hingga gangguan fungsi organ kronis.
Pakar kesehatan dan edukator nutrisi, Feliz Zulhendri, membeberkan fakta memprihatinkan terkait ketimpangan asupan gizi harian masyarakat Indonesia serta dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang.
Baca Juga: Mau Beli iPhone 18 Pro? Ini Cara Cek Pre-order di iBox, Digimap, dan Erafone
Ketimpangan Asupan: Karbohidrat 18 Kali Lebih Tinggi Dibanding Protein
Berdasarkan data statistik konsumsi per kapita tahunan masyarakat Indonesia, terdapat ketidakseimbangan yang sangat mencolok antara asupan karbohidrat dan protein hewani:
-
Beras: ±120 kg per orang per tahun.
-
Tepung Terigu (Olahan Mie, Roti, Snack): ±30 kg per orang per tahun.
-
Gula Tambahan (Minuman Manis & Sajian Kuliner): ±30 kg per orang per tahun.
-
Total Karbohidrat & Gula: ±180 kg per orang per tahun.
Sangat kontras, konsumsi protein hewani (daging ayam, telur, dan daging sapi) rata-rata hanya mencapai 10 kg per orang per tahun.
Ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengonsumsi karbohidrat dan gula hingga 18 kali lipat lebih banyak dibandingkan sumber protein hewani.
Karbohidrat sederhana seperti nasi putih, olahan tepung, mi instan, serta makanan manis pada dasarnya merupakan rantai glukosa (zat pati/starch). Ketika dikonsumsi berlebihan, seluruh asupan ini akan dipecah menjadi gula darah.
Lonjakan Kasus Diabetes Usia Muda dan Beban Layanan Kesehatan
Dampak nyata dari tingginya konsumsi gula ini adalah meledaknya angka kasus penyakit tidak menular (non-communicable diseases).
Dalam sebuah uji petik (random check) kesehatan di daerah Bali, ditemukan fakta mengejutkan bahwa 1 dari 4 anak remaja (25%) telah mengalami kondisi prediabetes dan diabetes.
Kondisi ini diperkirakan berpotensi jauh lebih tinggi pada kelompok usia dewasa. Pola makan tinggi gula dan karbohidrat sederhana memicu respon hyperglycemia dan hyperinsulinemia.
Penumpukan gula berlebih yang tidak terpakai sebagai energi akan dikonversi menjadi lemak viseral di area perut (menyebabkan perut buncit) serta memicu penyakit kronis seperti hipertensi, obesitas, hingga penyakit ginjal kronis.
Bahkan di unit hemodialisis (cuci darah) sejumlah rumah sakit, terjadi pergeseran tren usia pasien.
Pasien gagal ginjal akibat komplikasi diabetes dan penyakit metabolik kini tidak lagi didominasi oleh lansia usia 50–60 tahun ke atas, melainkan mulai merambah anak muda di rentang usia 20 hingga 40 tahun.
Mengapa Makanan Manis Bikin Kecanduan?
Banyak orang merasa sulit melepaskan diri dari dorongan mengonsumsi makanan manis maupun karbohidrat olahan. Secara biologis, gula memiliki sifat adiktif (sugar addiction).
-
Efek Dopamin: Saat mengonsumsi gula, tingkat gula darah melonjak tajam dan merangsang pelepasan hormon dopamin di otak, yang memunculkan rasa senang sementara.
-
Siklus Lapar Palsu: Makanan tinggi karbohidrat memicu lonjakan insulin secara mendadak untuk menekan gula darah. Namun, ketika level insulin mendadak turun, hormon penstimulus rasa lapar (ghrelin) akan melonjak kembali (bounce back). Hal inilah yang membuat seseorang merasa cepat lapar kembali hanya dalam kurun waktu 1–2 jam setelah makan.
Strategi Mengatur Asupan Nutrisi dan Detoks Gula
Untuk memutus rantai ketergantungan pada gula dan karbohidrat olahan, Feliz Zulhendri menyarankan beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan dalam pola hidup sehari-hari:
-
Tingkatkan Protein dan Lemak Sehat: Mengonsumsi protein hewani (seperti telur dan daging) serta lemak alami dapat merangsang hormon kepuasan makan (cholecystokinin dan peptide YY). Hormon-hormon ini memberikan sinyal kenyang yang tahan lebih lama di otak.
-
Sesuaikan Karbohidrat dengan Aktivitas Fisik: Konsumsi karbohidrat (seperti nasi atau kentang) sebaiknya diatur secara proporsional sesuai tingkat intensitas olahraga atau aktivitas fisik harian.
-
Gunakan Pemanis Alami Alternatif: Bagi yang ingin menikmati rasa manis tanpa memicu lonjakan gula darah, alternatif pemanis alami seperti monk fruit extract atau stevia dapat menjadi pilihan yang aman.
Langkah membatasi konsumsi produk ultra-processed food dan mengalihkan fokus pada makanan bergizi utuh (whole foods) merupakan kunci utama untuk menjaga fungsi organ tubuh serta kualitas hidup dalam jangka panjang. (*)