Kopi Baik atau Buruk untuk Usus? Ini Manfaat dan Risiko yang Perlu Diketahui

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 18:06 WIB
Benarkah kopi hitam tanpa gula bisa menurunkan berat badan?
Benarkah kopi hitam tanpa gula bisa menurunkan berat badan?

RADAR KUDUS - Kopi bukan hanya minuman yang banyak dipilih untuk mengusir rasa kantuk. Bagi sebagian orang, secangkir kopi di pagi hari juga dapat merangsang aktivitas saluran pencernaan dan membuat buang air besar menjadi lebih teratur.

Namun, efek kopi terhadap pencernaan tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian orang justru mengalami perut tidak nyaman, refluks asam, kembung, hingga diare setelah minum kopi.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada saluran pencernaan jika kopi dikonsumsi setiap hari?

Baca Juga: Atraksi Wisata Karimunjawa Bertambah, Nikmati Lanskap Laut dengan Jet Car dan Jet Boat

Menurut ahli gastroenterologi Linda Nguyen, MD, kopi dapat memberikan rangsangan pada sistem pencernaan. Efek tersebut salah satunya terlihat dari meningkatnya aktivitas usus setelah seseorang minum kopi.

Kopi dapat memicu refleks gastrokolik, yakni respons alami tubuh yang mendorong pergerakan usus setelah makanan atau minuman masuk ke dalam lambung. Efek ini membuat sebagian orang merasa lebih cepat ingin buang air besar setelah menikmati kopi.

Menariknya, efek tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada kandungan kafein. Kopi tanpa kafein juga dapat merangsang kontraksi peristaltik, yaitu gerakan otot saluran pencernaan yang membantu mendorong isi usus.

Sementara itu, kafein dapat memberikan rangsangan tambahan terhadap motilitas gastrointestinal atau pergerakan makanan dan sisa pencernaan di sepanjang saluran cerna.

Bagi orang yang sering mengalami sembelit, efek tersebut dapat terasa menguntungkan karena membantu membuat frekuensi buang air besar lebih teratur.

Sebaliknya, orang yang memang mudah mengalami diare atau memiliki frekuensi buang air besar tinggi mungkin justru merasa tidak nyaman setelah minum kopi.

Artinya, pengaruh kopi terhadap pergerakan usus tidak bisa dikategorikan sebagai baik atau buruk secara mutlak. Responsnya sangat bergantung pada kondisi pencernaan masing-masing orang.

Kopi dan Keseimbangan Mikroorganisme di Usus

Selain memengaruhi pergerakan usus, konsumsi kopi juga dikaitkan dengan kondisi mikrobioma usus.

Mikrobioma merupakan kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam saluran pencernaan, terutama di usus besar. Keberadaan mikroorganisme tersebut memiliki peran dalam proses pencernaan dan penyerapan nutrisi serta berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh, metabolisme, dan pengaturan peradangan.

Keragaman mikroorganisme menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam kesehatan usus. Kopi mengandung polifenol, yaitu senyawa yang dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme tertentu di dalam usus.

Baca Juga: 3 Kebiasaan Makan yang Sering Disepelekan, Ternyata Bikin Lambung 'Menangis'

Sejumlah penelitian yang dirujuk dalam laporan tersebut mengaitkan konsumsi kopi dengan perubahan komposisi mikrobioma, termasuk peningkatan mikroorganisme yang dianggap menguntungkan dan berkurangnya beberapa jenis bakteri yang berpotensi merugikan.

Meski demikian, hubungan tersebut tidak berarti semua orang akan mendapatkan efek yang sama hanya dengan minum kopi. Kesehatan mikrobioma juga dipengaruhi oleh pola makan, gaya hidup, kondisi kesehatan, dan berbagai faktor lainnya.

Kopi Juga Merangsang Proses Pencernaan

Efek kopi tidak hanya terjadi di usus besar. Minuman ini juga dapat memengaruhi proses pencernaan pada bagian atas saluran cerna.

Menurut ahli yang dikutip dalam laporan tersebut, kopi dapat merangsang pelepasan gastrin. Hormon ini berperan dalam meningkatkan produksi asam lambung yang dibutuhkan untuk membantu memecah makanan.

Kopi juga dikaitkan dengan pelepasan asam empedu melalui mekanisme yang melibatkan hormon kolesistokinin. Hormon tersebut berperan dalam merangsang kontraksi kantung empedu dan membantu pelepasan enzim pankreas.

Kedua proses tersebut merupakan bagian dari sistem pencernaan yang membantu tubuh mengolah makanan serta menyerap berbagai nutrisi.

Salah satu dugaan mekanisme yang membuat kopi mampu merangsang sistem pencernaan berkaitan dengan rasa pahitnya. Rasa tersebut dapat memicu sinyal melalui sistem saraf yang kemudian memberi respons pada organ pencernaan.

Tidak Semua Orang Cocok Minum Kopi Setiap Hari

Di balik berbagai potensi manfaatnya, kopi juga dapat menimbulkan masalah pencernaan pada sebagian orang.

Keluhan yang mungkin muncul antara lain refluks asam, iritasi lambung, kembung, hingga diare. Risiko keluhan tersebut dapat lebih terasa ketika kopi diminum dalam jumlah banyak atau saat perut kosong.

Baca Juga: Makan Malam Jam 9 Lalu Tidur? Ini Risiko yang Perlu Diketahui

Orang dengan kondisi seperti GERD, dispepsia fungsional, atau sindrom iritasi usus besar juga dapat lebih sensitif terhadap efek kopi.

Kopi dapat memengaruhi sfingter esofagus bagian bawah, yaitu otot yang berfungsi membantu mencegah isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Di sisi lain, kopi juga dapat merangsang produksi asam lambung.

Pada orang yang rentan, kombinasi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan munculnya refluks dan sensasi panas atau terbakar di dada.

Karena itu, seseorang yang berulang kali mengalami keluhan setelah minum kopi sebaiknya memperhatikan jumlah dan waktu konsumsinya. Mengurangi asupan atau menghindari kopi saat perut kosong dapat menjadi pilihan untuk melihat apakah keluhan berkurang.

Perhatikan Juga Jumlah Kafein

Efek kopi tidak hanya berkaitan dengan sistem pencernaan. Kandungan kafeinnya juga dapat memengaruhi sistem saraf.

Konsumsi kafein secara berlebihan dapat menyebabkan rasa gelisah, kecemasan, sulit tidur, dan kondisi terlalu waspada pada sebagian orang.

Gangguan tidur kemudian dapat memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan. Karena itu, minum kopi terlalu dekat dengan waktu tidur juga sebaiknya dihindari bagi orang yang sensitif terhadap kafein.

Para ahli yang dikutip dalam laporan tersebut menyebut konsumsi sekitar satu hingga tiga cangkir kopi per hari sebagai kisaran yang dapat dipertimbangkan. Namun, toleransi setiap orang terhadap kafein berbeda.

Baca Juga: Kurang Tidur Bikin Susah Mengingat? Studi Ungkap Manfaat Olahraga 20 Menit

Jenis kopi, ukuran cangkir, metode penyeduhan, serta kandungan kafein dalam setiap sajian juga dapat memengaruhi total asupan kafein.

Dengan demikian, minum kopi setiap hari tidak otomatis buruk bagi kesehatan usus. Pada sebagian orang, kopi dapat membantu merangsang pergerakan usus, mendukung keragaman mikrobioma, dan memicu sejumlah proses pencernaan.

Namun, pada orang lain, minuman yang sama dapat memicu refluks, diare, kembung, atau gangguan tidur.

Kuncinya adalah memperhatikan respons tubuh dan tidak mengonsumsi kopi secara berlebihan. Jika muncul keluhan pencernaan yang terus berulang setelah minum kopi, terutama nyeri, refluks berat, perubahan pola buang air besar yang menetap, atau gejala lain yang mengganggu, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebabnya.

Editor : Mahendra Aditya
manfaat kopi untuk usus efek minum kopi setiap hari kopi dan kesehatan pencernaan kopi menyebabkan asam lambung kopi untuk melancarkan BAB