RADAR KUDUS - Gangguan lambung sering kali dikaitkan dengan makanan pedas, asam, atau makanan tertentu yang dianggap sebagai pemicu utama. Padahal, cara dan waktu seseorang makan juga dapat memengaruhi proses pencernaan.
Kebiasaan makan terlalu cepat, makan malam terlalu dekat dengan waktu tidur, hingga mengonsumsi terlalu banyak cairan saat makan ternyata dapat membuat sistem pencernaan bekerja lebih berat.
Dokter spesialis gizi dari Department of Nutrition University of Medicine and Pharmacy Hospital Vietnam, Dr. Duong Thi Phuong, menjelaskan bahwa kondisi lambung memiliki kaitan erat dengan sistem saraf. Karena itu, bukan hanya jenis makanan yang perlu diperhatikan, tetapi juga kondisi emosional dan perilaku seseorang ketika makan.
"Lambung berhubungan erat dengan sistem saraf, sehingga stres, emosi, dan kebiasaan makan dapat secara langsung memengaruhi proses pencernaan," ujar Phuong, seperti dikutip dari VN Express.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Malam yang Sering Dianggap Sepele, Ternyata Bisa Mengganggu Kesehatan Jantung
Berikut sejumlah kebiasaan makan yang perlu diperhatikan agar tidak mengganggu kenyamanan lambung.
1. Makan Terlalu Cepat dan Tidak Fokus
Makan dengan terburu-buru merupakan salah satu kebiasaan yang kerap tidak disadari. Kesibukan membuat sebagian orang makan sambil bekerja, menggunakan ponsel, atau melakukan aktivitas lain.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kurang memperhatikan makanan yang dikonsumsi. Terlebih jika makan dilakukan ketika sedang stres atau terburu-buru.
Menurut Phuong, kondisi emosional dan aktivitas lain saat makan dapat memengaruhi proses pencernaan. Selain itu, makanan yang ditelan tanpa dikunyah dengan baik membuat lambung harus bekerja lebih keras untuk mengolahnya.
Mengunyah makanan secara perlahan juga memberikan waktu bagi tubuh untuk mengenali rasa kenyang. Dengan demikian, seseorang dapat lebih mudah mengontrol jumlah makanan yang dikonsumsi.
Phuong menyarankan makanan dikunyah sekitar 20 hingga 50 kali sebelum ditelan. Durasi makan juga idealnya berlangsung sekitar 20 hingga 30 menit agar proses makan tidak dilakukan secara terburu-buru.
Makan dengan lebih tenang sekaligus membantu seseorang memperhatikan rasa, tekstur, dan jumlah makanan yang dikonsumsi.
2. Makan Terlalu Larut Kemudian Langsung Berbaring
Waktu makan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama pada malam hari.
Baca Juga: Makan Malam Jam 9 Lalu Tidur? Ini Risiko yang Perlu Diketahui
Makan malam dalam waktu yang terlalu dekat dengan jam tidur dapat membuat lambung masih bekerja ketika tubuh sudah bersiap untuk beristirahat. Lama proses pencernaan sendiri dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi.
Masalah dapat muncul ketika seseorang langsung berbaring setelah makan. Dalam kondisi tersebut, isi lambung yang belum sepenuhnya kosong dapat lebih mudah naik menuju kerongkongan.
Akibatnya, risiko refluks asam dapat meningkat. Keluhan seperti sensasi terbakar di dada, rasa asam di mulut, atau ketidaknyamanan pada malam hari juga dapat muncul pada orang yang rentan mengalami refluks.
Selain mengganggu pencernaan, kondisi tersebut dapat membuat tidur menjadi kurang nyaman.
Karena itu, memberikan jeda setelah makan sebelum berbaring merupakan salah satu kebiasaan yang dapat diterapkan, terutama bagi orang yang sering mengalami keluhan asam lambung.
3. Terlalu Banyak Minum Saat Makan
Minum saat makan merupakan hal yang wajar. Namun, jumlah cairan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan.
Sebagian orang menganggap minum sebanyak-banyaknya ketika makan akan membantu proses pencernaan. Menurut Phuong, konsumsi cairan dalam jumlah berlebihan justru dapat membuat proses pencernaan menjadi kurang optimal.
Cairan dalam jumlah besar juga membuat lambung harus mengolah makanan sekaligus volume cairan yang cukup banyak. Kondisi tersebut dapat menambah rasa penuh atau tidak nyaman pada sebagian orang.
Baca Juga: Aturan Baru Bansos 2027, Calon Penerima PKH dan BPNT Wajib Daftar Online
Phuong menyarankan jumlah cairan yang dikonsumsi ketika makan, termasuk cairan dari sup, tidak lebih dari sekitar 200 mililiter. Sementara itu, jumlah yang disebut ideal berada di kisaran 50 hingga 100 mililiter.
Meski demikian, kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda. Minum air tetap penting untuk memenuhi kebutuhan hidrasi tubuh dan tidak perlu dihindari hanya karena sedang makan.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan lambung bukan hanya soal menghindari makanan pedas atau asam. Cara makan, waktu makan, kondisi emosional, serta jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan.
Makan secara perlahan, mengunyah makanan dengan baik, memberikan jeda sebelum tidur, dan tidak berlebihan mengonsumsi cairan saat makan dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang lebih ramah bagi sistem pencernaan.
Jika keluhan seperti nyeri perut, sensasi terbakar di dada, mual, muntah, atau gangguan pencernaan terus berulang, sebaiknya jangan hanya mengandalkan perubahan pola makan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Editor : Mahendra Aditya