Bahaya Kabut Asap terhadap Kesehatan, Masyarakat Perlu Waspadai Saat Karhutla Berlangsung

Anita Fitriani • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 00:09 WIB
Ilustrasi karhutla
Ilustrasi karhutla

RADAR KUDUS — Kabut asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan menjadi persoalan serius bagi kesehatan masyarakat pada 2026.

Asap yang menyebar ke wilayah permukiman tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga membawa partikel pencemar yang dapat terhirup oleh manusia. Kementerian Kesehatan mencatat jutaan penduduk di sejumlah wilayah terdampak karhutla terpapar asap secara langsung.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan, khususnya pada sistem pernapasan.

Salah satu komponen berbahaya dalam kabut asap adalah PM2,5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang mampu menembus bagian dalam paru-paru.

Baca Juga: Musim Hujan Mundur Akibat El Nino Menguat, BMKG: Waspada Karhutla dan Krisis Air

Apabila terhirup secara terus-menerus, partikel tersebut dapat mengganggu proses pernapasan dan memengaruhi kondisi tubuh. Asap dari karhutla juga dapat mengandung karbon monoksida serta zat kimia lain yang berbahaya apabila masuk ke dalam tubuh dalam jumlah besar.

Paparan asap biasanya menimbulkan keluhan berupa mata berair, mata terasa terbakar, hidung tersumbat, tenggorokan kering, dan batuk.

Pada kondisi paparan yang lebih berat, masyarakat dapat mengalami sesak napas, napas berbunyi, nyeri dada, hingga penurunan daya tahan tubuh.

Risiko tersebut menjadi lebih besar bagi orang yang memiliki asma, bronkitis, penyakit jantung, atau gangguan paru-paru lainnya karena kabut asap dapat memperburuk penyakit yang sudah diderita.

Baca Juga: Jarang Kena Matahari? Begini Cara Memenuhi Kebutuhan Vitamin D

Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang paling membutuhkan perlindungan selama kabut asap menyelimuti suatu wilayah.

Sistem pernapasan anak yang belum berkembang sempurna membuat mereka lebih mudah mengalami gangguan ketika menghirup udara tercemar.

Sementara itu, lansia serta penderita penyakit bawaan cenderung lebih rentan mengalami komplikasi. 

Ibu hamil juga perlu mengurangi paparan karena kualitas udara yang buruk dapat memengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin.

Masyarakat sebaiknya mengurangi kegiatan di luar rumah ketika udara terlihat berkabut atau kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat.

Baca Juga: Jangan Dianggap Sepele, Ini 10 Macam Pusing, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Jika harus bepergian, warga dianjurkan memakai masker yang dapat membantu menyaring partikel halus. Pintu dan jendela rumah juga perlu ditutup untuk mengurangi masuknya asap.

Selain itu, masyarakat perlu memantau informasi kualitas udara melalui sumber resmi dan memperhatikan perubahan kondisi kesehatan.

Gejala ringan tidak boleh diabaikan apabila berlangsung terus-menerus atau semakin parah.

Warga yang mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, nyeri dada, napas berbunyi, atau kesulitan bernapas perlu segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.

Baca Juga: 4 Manfaat Mandi Air Hangat Sebelum Tidur untuk Kesehatan dan Kualitas Tidur

Pemeriksaan lebih cepat dapat membantu mencegah gangguan akibat paparan asap berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.

Kabut asap akibat karhutla memiliki dampak langsung terhadap kesehatan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan kualitas udara buruk.

Oleh karena itu, pengurangan aktivitas luar ruangan, penggunaan masker, pemantauan udara, dan pemeriksaan medis ketika mengalami keluhan menjadi langkah penting untuk melindungi diri selama bencana asap masih berlangsung. (*) 

Editor : Mahendra Aditya
kabut asap gangguan pernapasan kesehatan asap karhutla