RADAR KUDUS - Tanaman catnip dapat membuat sebagian kucing berguling-guling, menggosokkan tubuh ke tanaman, berlari, hingga terlihat seperti kehilangan kendali.
Namun, menyebut kucing benar-benar mabuk akibat catnip sebenarnya kurang tepat.
Reaksi tersebut merupakan respons perilaku terhadap senyawa alami bernama nepetalactone yang terdapat pada tanaman Nepeta cataria.
Catnip merupakan tanaman dari keluarga mint yang sudah lama dikenal memiliki efek khas terhadap kucing. Ketika mencium aromanya, kucing yang responsif dapat menunjukkan perubahan perilaku seperti menjadi lebih aktif, berguling di lantai, menggosokkan kepala dan tubuh, mengeong, atau bermain dengan lebih agresif.
Sebaliknya, tidak semua kucing bereaksi terhadap catnip. Penelitian menunjukkan respons tersebut sangat bervariasi antarindividu dan dipengaruhi faktor genetik serta karakteristik sistem penciuman.
Salah satu penelitian menemukan sekitar sepertiga kucing tidak memberikan respons terhadap catnip, sementara penelitian lain menunjukkan variasi perilaku dan durasi reaksi yang cukup besar antar-kucing.
Kunci dari efek catnip berada pada nepetalactone. Senyawa ini bekerja melalui sistem penciuman kucing dan dapat memicu apa yang dikenal sebagai “catnip response”.
Reaksi tersebut berbeda dengan efek zat psikoaktif pada manusia, sehingga istilah “mabuk” lebih tepat dipahami sebagai gambaran populer terhadap perubahan perilaku kucing, bukan mabuk dalam pengertian medis seperti pada manusia.
Saat mencium catnip, sebagian kucing justru tampak sangat bersemangat. Mereka bisa berlari, bermain, berguling, atau menggosokkan wajah ke sumber aroma. Pada kucing lain, efeknya justru terlihat lebih tenang atau seperti mengantuk.
Texas A&M University menjelaskan bahwa paparan melalui penciuman dapat bersifat menstimulasi, sedangkan ketika tertelan efeknya dapat lebih menenangkan. Respons tersebut umumnya hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Menariknya, penelitian juga menemukan adanya kaitan antara respons terhadap tanaman pemikat kucing dan sistem opioid alami dalam tubuh.
Studi pada kucing menunjukkan senyawa dari tanaman sejenis dapat meningkatkan kadar beta-endorfin, sementara penghambatan reseptor opioid tertentu dapat mengurangi perilaku menggosokkan kepala yang menjadi ciri khas respons tersebut.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa kucing terlihat begitu menikmati aroma tanaman tersebut.
Efek catnip juga bukan sesuatu yang membuat kucing ketagihan seperti narkotika. Respons tersebut bersifat sementara dan tidak semua kucing memiliki sensitivitas yang sama. Bahkan, paparan yang terlalu sering dapat membuat respons terhadap catnip berkurang untuk sementara waktu.
Dari sisi keamanan, catnip umumnya digunakan sebagai bentuk enrichment atau stimulasi lingkungan untuk kucing, misalnya pada mainan, scratching post, atau diberikan dalam bentuk tanaman dan daun kering. Namun, jumlah yang berlebihan tetap dapat menyebabkan gangguan pencernaan.
ASPCA mencatat catnip dapat menyebabkan muntah dan diare pada kucing, sementara Texas A&M juga menyarankan pemilik menghentikan pemberian jika muncul gejala tersebut.
Kucing yang masih sangat muda juga belum tentu menunjukkan reaksi yang sama. Respons terhadap catnip berkaitan dengan kematangan sistem sensorik dan faktor genetik, sehingga seekor anak kucing dapat terlihat tidak tertarik meskipun kelak memberikan respons ketika sudah lebih dewasa.
Bagi kucing yang tidak bereaksi terhadap catnip, bukan berarti tanaman pemikat tidak bekerja sama sekali.
Penelitian menemukan beberapa tanaman lain, seperti silver vine atau Actinidia polygama, valerian dan Tatarian honeysuckle, juga dapat memicu perilaku serupa pada sebagian kucing. Bahkan, sebagian kucing yang tidak merespons catnip ternyata memberikan respons terhadap silver vine.
Jadi, benarkah catnip membuat kucing mabuk? Tidak dalam pengertian mabuk seperti manusia akibat alkohol atau narkotika.
Catnip memicu respons perilaku khas melalui sistem penciuman, terutama berkat senyawa nepetalactone.
Pada kucing yang sensitif, efeknya dapat terlihat sangat dramatis, tetapi sifatnya sementara dan umumnya digunakan sebagai bentuk stimulasi atau pengayaan lingkungan.
Dengan demikian, kucing yang berguling-guling setelah mencium catnip bukan berarti sedang kehilangan kesadaran.
Ia sedang mengalami respons alami terhadap senyawa tanaman tersebut. Bagi pemilik kucing, catnip dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menambah variasi aktivitas dan permainan, selama diberikan secara wajar dan kucing dipantau jika muncul reaksi yang tidak biasa.
Editor : Mahendra Aditya