Mengenal Kimpul, Umbi Kaya Potensi yang Bisa Diolah Jadi Keripik hingga Tepung

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:53 WIB
Kimpul
Kimpul.

JAKARTA — Kimpul merupakan salah satu umbi lokal yang berpotensi memperkaya pilihan pangan masyarakat Indonesia.

Meski tidak sepopuler singkong, ubi jalar, atau talas, kimpul telah lama dimanfaatkan di sejumlah daerah dan dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan.

Umbi ini kembali menarik perhatian karena potensinya sebagai sumber karbohidrat alternatif.

Setelah diolah dengan tepat, kimpul memiliki tekstur lembut dan pulen sehingga dapat dinikmati sebagai makanan sederhana maupun bahan dasar produk pangan lainnya.

Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi kimpul. Umbi ini dapat menimbulkan sensasi gatal atau mengiritasi mulut dan tenggorokan apabila tidak diproses dengan benar.

Karena itu, tahap pengupasan, pencucian, perendaman, hingga pemasakan menjadi bagian penting dalam mengolah kimpul.

Apa Itu Kimpul?

Kimpul umumnya merujuk pada kelompok tanaman dari genus Xanthosoma, salah satunya Xanthosoma sagittifolium.

Dalam literatur internasional, tanaman ini dikenal dengan istilah cocoyam dan termasuk keluarga Araceae atau kelompok tanaman talas-talasan.

Kimpul tidak sepenuhnya sama dengan talas yang secara botani umumnya merujuk pada genus Colocasia.

Meski berasal dari genus berbeda, keduanya masih berada dalam keluarga yang sama sehingga bentuk fisik maupun penyebutannya kerap membingungkan.

Tanaman Xanthosoma diketahui berasal dari kawasan tropis Amerika, terutama Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Seiring waktu, tanaman tersebut menyebar ke berbagai wilayah tropis, termasuk Afrika dan Asia.

Di Indonesia, kimpul memiliki sejumlah nama lokal. Sebutan yang digunakan antara lain talas Belitung, linyik, genjlong, bothe, dan bentul.

Perbedaan nama tersebut dapat ditemukan di berbagai daerah sesuai kebiasaan masyarakat setempat.

Salah satu spesies yang banyak dibudidayakan adalah Xanthosoma sagittifolium.

Bagian umbinya menjadi bagian penting sebagai sumber pangan dan dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan.

Tekstur Lembut dan Mudah Diolah

Kimpul memiliki umbi yang dapat dikonsumsi setelah melalui proses pengolahan. Ketika dimasak dengan benar, teksturnya menjadi empuk, lembut, dan cenderung pulen.

Karakter tersebut membuat kimpul cukup fleksibel untuk diolah. Umbi ini dapat direbus, dikukus, dipanggang, digoreng, hingga diproses menjadi tepung.

Kimpul juga memiliki kandungan karbohidrat yang dapat menjadi sumber energi. Selain itu, sejumlah literatur mengenai Xanthosoma sagittifolium mencatat keberadaan protein, serat, vitamin, dan mineral di dalamnya.

Potensi tersebut membuat kimpul menarik dalam pengembangan diversifikasi pangan. Pengolahannya dapat diarahkan tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga menjadi produk bernilai ekonomi seperti keripik, tepung, makanan siap olah, serta bahan campuran berbagai produk makanan.

Kenapa Kimpul Bisa Menyebabkan Gatal?

Sensasi gatal menjadi salah satu karakter yang perlu diperhatikan ketika mengolah kimpul.

Rasa mengiritasi tersebut berkaitan dengan keberadaan oksalat dan struktur kristal yang dikenal sebagai raphides.

Senyawa dan struktur tersebut dapat menyebabkan sensasi tidak nyaman apabila kimpul dikonsumsi dalam kondisi belum diolah dengan baik. Efeknya dapat terasa pada mulut atau tenggorokan.

Karena itu, kimpul tidak sebaiknya dikonsumsi mentah atau setengah matang. Proses pengolahan dengan panas menjadi langkah penting untuk membuatnya lebih layak dikonsumsi.

Sejumlah penelitian yang membahas Xanthosoma sagittifolium juga menunjukkan bahwa teknik seperti perendaman, perebusan, pengukusan, dan pengeringan dapat membantu mengurangi kandungan oksalat.

Artinya, persoalan utama bukan semata-mata pada umbinya, melainkan pada bagaimana kimpul dipersiapkan sebelum disajikan.

Cara Mengolah Kimpul agar Tidak Gatal

1. Gunakan Sarung Tangan Saat Mengupas

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menggunakan sarung tangan ketika mengupas dan memotong kimpul.

Cara ini membantu mengurangi kontak langsung antara kulit dan getah atau bagian umbi yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada sebagian orang.

Setelah dikupas, cuci kimpul hingga bersih. Bagian yang kotor atau rusak sebaiknya dibuang sebelum umbi diproses lebih lanjut.

2. Rendam Sebelum Dimasak

Potongan kimpul dapat direndam terlebih dahulu. Salah satu praktik pengolahan rumahan adalah menggunakan air garam selama sekitar 15 hingga 30 menit, kemudian mencucinya kembali sebelum dimasak.

Dalam literatur ilmiah, proses perendaman atau soaking termasuk metode yang dapat membantu mengurangi kandungan oksalat pada kelompok cocoyam.

Perendaman bukan satu-satunya metode. Hasil pengolahan juga dipengaruhi teknik berikutnya, terutama pemasakan hingga matang.

3. Rebus atau Kukus hingga Matang

Perebusan menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mengolah kimpul. Potongan umbi dapat dimasukkan ke dalam air dan dimasak sampai teksturnya benar-benar lunak.

Setelah matang, air rebusan dapat dibuang dan kimpul dibilas sebelum dikonsumsi atau diolah menjadi makanan lain.

Selain direbus, kimpul juga dapat dikukus. Kedua metode tersebut menggunakan panas untuk membantu mengurangi senyawa yang dapat menyebabkan rasa mengiritasi.

Sejumlah resep rumahan menggunakan bahan tambahan seperti asam jawa atau daun salam ketika merebus kimpul.

Namun, bahan tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari praktik kuliner, bukan sebagai bahan wajib berdasarkan penelitian ilmiah.

4. Jangan Konsumsi Kimpul Setengah Matang

Kimpul harus dimasak sampai bagian dalamnya benar-benar lunak. Jangan hanya mengandalkan perubahan warna atau kondisi permukaan sebagai tanda bahwa umbi sudah matang.

Untuk memeriksanya, gunakan garpu atau tusuk makanan. Jika bagian dalam masih keras, proses pemasakan perlu dilanjutkan.

Memastikan kimpul matang merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko munculnya sensasi gatal atau iritasi ketika dikonsumsi.

5. Keringkan untuk Dijadikan Tepung

Selain dikonsumsi sebagai umbi, kimpul dapat dikembangkan menjadi produk kering seperti keripik maupun tepung.

Untuk membuat tepung, umbi dapat dikupas, dicuci, kemudian diiris tipis. Potongan tersebut selanjutnya dikeringkan hingga kadar airnya rendah dan teksturnya cukup rapuh untuk digiling.

Pengeringan dapat dilakukan menggunakan sinar matahari atau oven. Salah satu metode yang digunakan dalam pengolahan tepung umbi adalah pengeringan dengan oven pada suhu sekitar 60 derajat Celsius.

Setelah benar-benar kering, irisan kimpul digiling dan diayak hingga menghasilkan tepung bertekstur halus.

Tepung tersebut dapat digunakan sebagai bahan berbagai makanan, termasuk mi, brownies, kue kering, dan produk olahan lainnya.

Kimpul Bisa Diolah Menjadi Beragam Makanan

Kimpul memiliki potensi cukup luas sebagai bahan pangan. Pengolahannya tidak terbatas pada cara direbus atau dikukus.

Umbi ini dapat dibuat menjadi keripik, perkedel, kroket, kolak, lemet, hingga gethuk.

Untuk membuat gethuk, misalnya, kimpul yang telah direbus dapat ditumbuk bersama gula dan kelapa. Hasilnya memiliki tekstur lembut dan dapat dibentuk sesuai kebutuhan.

Pengembangan kimpul menjadi tepung juga membuka peluang lebih besar. Produk tepung dapat digunakan sebagai bahan dasar atau campuran dalam pembuatan makanan modern.

Potensi tersebut menunjukkan bahwa kimpul dapat ditempatkan sebagai salah satu pilihan dalam diversifikasi pangan. Pemanfaatannya bahkan dapat berkembang dari kebutuhan konsumsi rumah tangga menuju produk bernilai tambah.

Kimpul dan Potensi Pangan Lokal

Kimpul memperlihatkan bahwa sumber karbohidrat tidak selalu harus berasal dari beras.

Indonesia memiliki banyak jenis umbi yang dapat dimanfaatkan, tetapi sebagian di antaranya belum mendapatkan perhatian sebesar komoditas pangan utama.

Kimpul merupakan salah satu contoh pangan lokal yang memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.

Kandungan gizinya, fleksibilitas pengolahan, serta kemampuannya menjadi bahan tepung membuat umbi ini memiliki potensi ekonomi.

Meski demikian, karakteristik kimpul tetap perlu dipahami. Proses pengolahan tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena umbi yang kurang matang dapat menimbulkan sensasi gatal dan iritasi.

Dengan teknik pengolahan yang tepat, kimpul dapat menjadi pilihan pangan yang lebih beragam sekaligus membuka peluang pengembangan produk lokal.

Bagi masyarakat yang baru mencoba kimpul, prinsip utamanya sederhana: jangan dikonsumsi mentah, bersihkan dengan baik, dan pastikan dimasak hingga matang.

Dengan penanganan yang benar, umbi yang selama ini mungkin hanya dikenal di sejumlah daerah tersebut dapat diolah menjadi beragam makanan dan memiliki nilai tambah yang lebih besar.

Editor : Mahendra Aditya
kimpul cara mengolah kimpul kimpul agar tidak gatal manfaat kimpul umbi lokal Indonesia