RADAR KUDUS – Nyeri pinggang sering kali dianggap sebagai keluhan ringan akibat kelelahan, terlalu lama duduk, atau mengangkat beban berat.
Namun, apabila rasa sakit disertai nyeri yang menjalar hingga paha atau tungkai, kondisi tersebut bisa menjadi tanda saraf kejepit, khususnya pada ruas tulang belakang L4-L5.
Menurut para ahli, saraf kejepit di segmen L4-L5 merupakan salah satu gangguan tulang belakang yang paling sering ditemukan.
Kondisi ini terjadi ketika akar saraf mengalami tekanan sehingga memicu rasa nyeri, kesemutan, hingga kelemahan pada tungkai.
Gejala Saraf Kejepit L4-L5
Dokter spesialis bedah saraf dr. M. Aulia Rahman, Sp.BS-FTB, FINSS menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang menyamakan saraf kejepit dengan Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Padahal, keduanya tidak selalu sama.
HNP merupakan salah satu penyebab yang dapat menimbulkan saraf kejepit, tetapi tidak semua HNP menyebabkan penekanan saraf. Sebaliknya, saraf kejepit juga dapat dipicu oleh penyempitan kanal tulang belakang, penebalan ligamen, hingga perubahan degeneratif akibat penuaan.
Salah satu ciri paling khas saraf kejepit pada ruas L4-L5 adalah munculnya nyeri yang menjalar dari pinggang ke sisi luar paha, bahkan dapat terus turun hingga betis atau punggung kaki.
Selain itu, penderita juga dapat mengalami:
- Nyeri pinggang yang tidak kunjung membaik.
- Kesemutan atau mati rasa pada paha, betis, atau kaki.
- Sensasi seperti tersengat listrik saat bergerak.
- Kelemahan otot kaki sehingga sulit berjalan atau menaiki tangga.
- Nyeri bertambah saat batuk, bersin, membungkuk, atau duduk terlalu lama.
Jangan Dianggap Pegal Biasa
Keluhan nyeri akibat saraf kejepit umumnya berbeda dengan pegal otot biasa. Pegal biasanya akan membaik setelah beristirahat, sedangkan nyeri akibat saraf kejepit cenderung menetap bahkan semakin berat ketika saraf terus mengalami tekanan.
Jika dibiarkan tanpa penanganan, tekanan pada saraf dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan dalam kasus tertentu menyebabkan penurunan fungsi otot.
Penyebab Saraf Kejepit
Berdasarkan informasi dari American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), Mayo Clinic, dan National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), beberapa faktor yang meningkatkan risiko saraf kejepit antara lain:
- Hernia nukleus pulposus (HNP).
- Penuaan yang menyebabkan bantalan tulang belakang menipis.
- Cedera akibat mengangkat beban berat.
- Obesitas yang memberi tekanan lebih besar pada tulang belakang.
- Kurang olahraga dan otot inti tubuh yang lemah.
- Terlalu lama duduk dengan posisi yang salah.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera berkonsultasi dengan dokter apabila nyeri pinggang:
- Menjalar hingga kaki.
- Disertai mati rasa atau kesemutan.
- Menyebabkan kaki terasa lemah.
- Tidak membaik setelah beberapa hari.
- Mengganggu aktivitas atau tidur.
Pada kondisi yang lebih berat, seperti gangguan buang air kecil atau besar disertai kelemahan kedua tungkai, penderita harus segera mendapatkan penanganan medis karena dapat menjadi keadaan darurat.
Cara Mengurangi Risiko
Untuk menjaga kesehatan tulang belakang, para ahli menyarankan:
- Menjaga berat badan ideal.
- Rutin berolahraga, terutama latihan penguatan otot punggung dan perut.
- Menghindari mengangkat beban dengan posisi membungkuk.
- Mengatur posisi duduk yang ergonomis.
- Beristirahat secara berkala saat bekerja dalam posisi duduk lama.
Nyeri pinggang memang sering disebabkan oleh kelelahan, tetapi jangan mengabaikannya bila disertai nyeri menjalar, kesemutan, atau kelemahan pada kaki.
Gejala tersebut dapat mengarah pada saraf kejepit L4-L5 yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis agar tidak menimbulkan komplikasi yang lebih serius.
Editor : Mahendra Aditya