Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Kebiasaan Mengkritik Anak Ini Ternyata Tidak Sesederhana yang Dibayangkan

uinbroadcasting • Minggu, 12 Juli 2026 | 21:16 WIB
Kritik anak terus menerus ternyata bisa mengubah otak anak, Simak Ulasannya Berikut ini!
Kritik anak terus menerus ternyata bisa mengubah otak anak, Simak Ulasannya Berikut ini!

RADAR KUDUS - Tidak sedikit orang tua yang menganggap bentakan, kritik, atau hinaan sebagai cara mendidik anak agar menjadi lebih kuat dan disiplin.

Padahal, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut tidak hanya melukai perasaan anak, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan otaknya.

Saat anak berulang kali menerima kritik atau bentakan, otaknya mulai menganggap lingkungan sebagai tempat yang tidak aman.

Akibatnya, tubuh terus mengaktifkan sistem fight-or-flight, yaitu respons alami ketika seseorang menghadapi ancaman.

Dalam kondisi tersebut, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti kortisol.

Jika berlangsung sesekali, hormon ini membantu tubuh beradaptasi.

Namun, ketika stres terjadi terus-menerus selama masa kanak-kanak, kondisinya dapat berubah menjadi toxic stress, yaitu stres berkepanjangan yang berdampak pada perkembangan otak.

Menurut Center on the Developing Child, Harvard University, toxic stress dapat mengganggu perkembangan beberapa bagian penting otak, seperti prefrontal cortex yang berperan dalam mengendalikan emosi, berkonsentrasi, dan mengambil keputusan.

Selain itu, amigdala, yaitu pusat pendeteksi ancaman, menjadi lebih aktif sehingga anak lebih mudah merasa takut atau cemas.

Dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung. Anak mungkin hanya tampak pendiam, mudah tersinggung, atau terlalu sensitif terhadap kritik.

Sebagian lainnya menjadi sulit mempercayai orang lain, menarik diri dari lingkungan, atau terus merasa dirinya tidak cukup baik.

Banyak orang menganggap perilaku tersebut hanya bagian dari sifat pemalu atau "terlalu baper".

Padahal, dalam beberapa kasus, itu merupakan cara otak bertahan setelah lama hidup dalam tekanan emosional.

Penelitian Harvard juga menunjukkan bahwa stres emosional yang berlangsung terus-menerus pada masa awal kehidupan dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, kesulitan belajar, hingga berbagai masalah kesehatan ketika anak beranjak dewasa.

Karena itu, cara orang tua berbicara kepada anak memiliki peran yang jauh lebih besar daripada yang sering dibayangkan.

Kata-kata yang penuh dukungan dapat membantu anak merasa aman dan percaya diri, sedangkan ucapan yang terus merendahkan bisa membentuk cara anak memandang dirinya sendiri selama bertahun-tahun.

Mendidik anak bukan berarti tidak boleh menegur kesalahan.

Namun, teguran yang disampaikan dengan tenang, penuh empati, dan tanpa merendahkan akan jauh lebih efektif dibanding bentakan atau hinaan. (bay)

Editor : Ali Mustofa
#mengkritik anak #toxic stress #anak #orang tua