Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Indonesia Siap Cetak Sejarah, Vaksin mRNA DBD Pertama di Dunia Segera Diuji

Iwan Arfianto • Rabu, 8 Juli 2026 | 16:21 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

Jakarta - Indonesia berpotensi besar memimpin inovasi medis global dalam penanggulangan demam berdarah dengue (DBD).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan bahwa saat ini tanah air tengah mengawal proyek pengembangan vaksin berbasis mRNA khusus dengue, yang diklaim akan menjadi yang pertama di dunia.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menegaskan komitmen penuh institusinya untuk mendampingi seluruh proses riset dari hulu ke hilir, memastikan kandidat vaksin ini sukses melaju hingga tahapan uji klinis demi kemaslahatan masyarakat.

"Kita akan membuat sejarah besar melalui kehadiran vaksin berbasis mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah. Oleh sebab itu, BPOM bertekad memaksimalkan seluruh instrumen pendampingan regulasi yang kita miliki," ujar Taruna dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Taruna menambahkan, urgensi kehadiran vaksin dengue ini terbilang sangat tinggi.

Sebab, hingga detik ini, dunia medis belum memiliki lini terapi antiviral yang benar-benar spesifik untuk menyembuhkan infeksi virus dengue.

Ia membagikan pengalamannya sewaktu menempuh pendidikan spesialis di University of California, Irvine.

Kala itu, dirinya harus menangani pasien lokal yang terjangkit DBD pasca-berwisata dari kawasan Asia Tenggara.

Rekan sejawatnya di AS sempat kebingungan akibat minimnya paparan kasus.

Berbekal pengalamannya bertugas di puskesmas-puskesmas Indonesia, Taruna memfokuskan perawatan pada manajemen demam dan pencegahan dehidrasi akut hingga pasien dinyatakan pulih.

Tingginya beban kasus di dalam negeri dinilai Taruna menjadi modal klinis yang sangat berharga bagi para peneliti lokal.

"Jika proyek ini berhasil, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mitra riset seperti Tsinghua University dan Universitas Indonesia, melainkan akan memberi impak besar bagi kesehatan global," imbuhnya.

Kendati demikian, Taruna mengingatkan bahwa pengenalan prototipe ini barulah langkah awal dari koridor riset yang panjang.

Sebagai otoritas regulatori, BPOM memastikan pengawasan ketat pada tiga aspek fundamental: khasiat (efficacy), keamanan (safety), dan mutu standar produksi.

Namun, ia menjamin birokrasi tidak akan menjadi batu sandungan bagi inovasi.

"Jangan posisikan Badan POM hanya sebagai tukang stempel di akhir. Libatkan kami sejak awal proses," cetus Taruna.

Hasil Uji Praklinis Ungguli Vaksin Komersial yang Ada

Pada kesempatan yang sama, Beti Ernawati Dewi selaku pemimpin tim peneliti dari Etana Biotechnologies Indonesia, mengungkapkan bahwa kandidat vaksin saat ini sedang berada dalam fase uji praklinis (pre-clinical trial).

Walau masih di tahap awal, data laboratorium menunjukkan performa respons imun yang sangat positif dan melampaui ekspektasi.

"Berdasarkan hasil uji praklinis yang kami rekam, raihan titer antibodi untuk menetralisasi berbagai strain virus DBD yang bersirkulasi di Indonesia menunjukkan hasil yang jauh lebih baik jika dikomparasikan dengan produk vaksin komersial yang saat ini sudah beredar," papar Beti.

Tim peneliti menargetkan dapat melangkah ke fase pengujian efikasi langsung pada subjek manusia di Indonesia dalam kurun waktu setengah tahun ke depan.

"Kami berharap dalam enam bulan ini uji efikasi pada subjek di Indonesia sudah bisa berjalan, dan semoga konfirmasi hasilnya nanti akan selaras dengan capaian manis di tahap praklinis," pungkasnya.

Jika berjalan mulus, teknologi karya anak bangsa ini dipastikan bakal menjadi tonggak sejarah baru (milestone) dalam arsitektur imunisasi dunia.

Editor : Iwan Arfianto
#vaksin mrna #uji klinis #demam berdarah #indonesia #bpom