RADAR KUDUS — Di era digitalisasi yang kian masif, gawai (gadget) telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak.
Namun, kemudahan teknologi ini menyimpan bom waktu bagi tumbuh kembang emosional dan kognitif buah hati.
Pakar kesehatan anak, dr. Reisa Broto Asmoro, memberikan imbauan keras kepada para orang tua untuk memantau ketat durasi paparan layar (screen time) pada anak guna menghindari risiko gangguan otak permanen dan depresi usia dini.
Imbauan ini sejalan dengan panduan resmi yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
WHO menegaskan bahwa pembatasan durasi menatap layar gawai maupun televisi harus disesuaikan secara ketat berdasarkan kelompok usia anak.
Panduan Batas Waktu Screen Time Berdasarkan Usia Menurut WHO
Guna menjaga stimulasi saraf otak anak tetap optimal, orang tua wajib mencermati batasan durasi screen time mekanis berikut:
-
Anak di Bawah Usia 1 Tahun: Kelompok usia ini sama sekali tidak boleh terpapar oleh layar gawai (zero screen time). Bayi pada usia ini membutuhkan stimulasi sensorik dan motorik langsung dari lingkungan nyata.
-
Anak Usia 1–2 Tahun: Batas toleransi maksimal yang dianjurkan adalah satu jam per hari. Kendati demikian, aturan emasnya tetap berlaku: semakin sedikit waktu menatap layar, semakin baik bagi perkembangan mereka.
-
Anak Usia 3–4 Tahun: Durasi maksimal tetap dipatok satu jam per hari. Namun, pada fase ini, aktivitas menonton harus dialihkan menjadi kegiatan interaktif dua arah. Orang tua didorong untuk menemani anak sembari menyelinginya dengan aktivitas membaca buku, mendongeng, atau permainan fisik bersama.
Dua Pemicu Utama Depresi Anak Akibat Kecanduan Gawai
Ancaman Kesehatan Mental: Dokter Reisa mengingatkan bahwa pembiaran tanpa kontrol dalam jangka panjang dapat memicu gangguan psikologis berat.
Depresi pada anak akibat paparan ponsel umumnya dipicu oleh dua faktor krusial yang saling berkaitan.
Faktor pertama adalah ketergantungan struktural yang merusak neurotransmiter di dalam otak. Paparan dopamin instan dari layar ponsel secara terus-menerus dapat mengganggu fungsi lobus frontal—bagian otak yang bertanggung jawab atas kontrol emosi, konsentrasi, dan interaksi sosial.
Akibatnya, kemampuan anak untuk berempati dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar menjadi tumpul.
Faktor kedua berkaitan dengan trauma mendalam akibat kehilangan gawai. Dalam beberapa kasus yang sempat viral di ranah publik, anak-anak mengalami syok hebat, kecemasan akut, hingga depresi berat saat ponsel mereka disita atau rusak.
Kondisi-kondisi klinis tersebut pada akhirnya memicu perubahan perilaku yang sangat drastis pada anak.
Anak yang mengalami kecanduan gawai akut akan menunjukkan gejala seperti emosi yang meledak-ledak (mudah marah/tantrum), menarik diri dari komunikasi keluarga, hilangnya minat pada hobi luar ruang, hingga penurunan prestasi akademis yang merosot tajam di sekolah.
Oleh karena itu, ketegasan orang tua dalam menerapkan aturan screen time menjadi benteng pertahanan utama bagi kesehatan mental masa depan anak. (*)