RADAR KUDUS - Pernahkah Anda dilarang minum es karena dianggap bisa menyebabkan batuk?
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, anggapan tersebut sudah seperti aturan yang tidak tertulis.
Sejak kecil, banyak orang terbiasa mendengar nasihat dari orang tua agar menghindari minuman dingin jika tidak ingin terserang batuk, pilek, atau flu.
Bahkan hingga kini, kepercayaan itu masih terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, di balik keyakinan yang telah lama dipercaya tersebut, muncul pertanyaan yang sering diperdebatkan.
Mengapa ada orang yang hampir setiap hari minum es tetapi tetap sehat?
Sebaliknya, ada pula yang jarang mengonsumsi minuman dingin, tetapi tetap mengalami batuk dan pilek. Lantas, benarkah es menjadi penyebabnya?
Pertanyaan ini ternyata tidak hanya menjadi perbincangan di kalangan masyarakat, tetapi juga sering dijelaskan oleh para tenaga medis.
Hingga saat ini, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara minuman dingin dan batuk tidak sesederhana yang selama ini dipercaya.
Batuk Bukan Disebabkan Suhu Minuman
Batuk merupakan mekanisme pertahanan alami tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan dari lendir, debu, kuman, maupun benda asing lainnya.
Dengan kata lain, batuk bukanlah penyakit, melainkan gejala yang muncul akibat adanya gangguan pada saluran napas.
Menurut penjelasan medis, sebagian besar kasus batuk justru dipicu oleh infeksi virus, seperti virus influenza dan rhinovirus, yang menyebabkan flu atau pilek.
Selain virus, batuk juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, alergi, asma, paparan asap rokok, polusi udara, hingga naiknya asam lambung ke kerongkongan (GERD).
Artinya, minuman es bukan penyebab utama seseorang mengalami batuk.
Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa suhu dingin dari es mampu memicu infeksi virus atau bakteri yang menyebabkan batuk.
Mengapa Setelah Minum Es Tenggorokan Terasa Tidak Nyaman?
Meski bukan penyebab langsung batuk, minuman dingin memang dapat menimbulkan sensasi tertentu pada sebagian orang.
Saat cairan bersuhu rendah melewati tenggorokan, otot dan pembuluh darah di area tersebut dapat bereaksi sementara.
Pada orang yang memiliki tenggorokan sensitif, kondisi ini bisa memunculkan rasa gatal, sedikit nyeri, atau memicu refleks batuk ringan.
Namun, efek tersebut biasanya hanya berlangsung sesaat dan akan hilang dengan sendirinya.
Reaksi ini berbeda dengan batuk akibat infeksi yang berlangsung selama beberapa hari bahkan hingga berminggu-minggu.
Sementara bagi orang yang sedang mengalami radang tenggorokan atau flu, minuman dingin mungkin terasa kurang nyaman karena tenggorokan memang sudah mengalami peradangan sebelumnya.
Inilah yang sering membuat banyak orang mengira bahwa es menjadi penyebab batuk, padahal penyakit tersebut sudah terjadi lebih dulu.
Mengapa Mitos Minum Es Bikin Batuk Masih Dipercaya?
Kepercayaan ini berkembang karena banyak orang menghubungkan dua kejadian yang terjadi secara bersamaan.
Misalnya, seseorang minum es pada siang hari, kemudian malamnya mulai batuk.
Padahal, virus penyebab flu atau batuk umumnya sudah masuk ke dalam tubuh beberapa hari sebelumnya dan baru menimbulkan gejala setelah masa inkubasi.
Selain itu, banyak orang yang menganggap suhu dingin sebagai penyebab penyakit. Padahal, menurut dokter, penyebab utama batuk tetap berasal dari virus, bakteri, alergi, maupun faktor lingkungan.
Ada pula faktor psikologis dan kebiasaan turun-temurun. Karena sejak kecil sering diberi tahu bahwa es menyebabkan batuk, banyak orang akhirnya menganggap keduanya selalu saling berkaitan meskipun belum tentu benar secara medis.
Faktor yang Justru Lebih Berpengaruh
Dibandingkan suhu minuman, ada beberapa faktor yang jauh lebih besar pengaruhnya terhadap munculnya batuk, di antaranya:
- Infeksi virus influenza, rhinovirus, dan virus saluran napas lainnya.
- Infeksi bakteri pada saluran pernapasan.
- Daya tahan tubuh yang sedang menurun.
- Paparan debu, asap kendaraan, asap rokok, atau polusi udara.
- Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu hewan, maupun udara dingin.
- Penyakit asma atau gangguan asam lambung.
Karena itu, menjaga sistem imun jauh lebih penting daripada sekadar menghindari minuman dingin.
Bagaimana dengan Kebersihan Es?
Satu hal yang perlu diperhatikan bukanlah suhu esnya, melainkan kualitas air yang digunakan.
Apabila es dibuat dari air yang tidak higienis atau proses penyimpanannya kurang bersih, berbagai bakteri maupun mikroorganisme dapat mencemari minuman.
Kondisi ini memang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pencernaan.
Oleh karena itu, pastikan es berasal dari air matang atau produsen yang memenuhi standar kebersihan.
Kapan Sebaiknya Mengurangi Minum Es?
Meskipun aman bagi kebanyakan orang, ada beberapa kondisi di mana minuman dingin sebaiknya dikurangi sementara, seperti:
- Sedang mengalami radang tenggorokan yang cukup berat.
- Tenggorokan terasa sangat sensitif terhadap suhu dingin.
- Memiliki riwayat alergi terhadap udara atau suhu dingin.
- Mengalami faringitis kronis atau gangguan tertentu pada tenggorokan.
- Tubuh sedang tidak fit sehingga tenggorokan mudah terasa tidak nyaman.
Dalam kondisi tersebut, memilih minuman hangat sering kali membuat tenggorokan terasa lebih nyaman.
Tips Mencegah Batuk
Daripada hanya menghindari minuman dingin, langkah berikut jauh lebih efektif untuk mencegah batuk:
- Rutin mencuci tangan menggunakan sabun.
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
- Tidur yang cukup setiap hari.
- Minum air putih sesuai kebutuhan tubuh.
- Menghindari asap rokok dan polusi udara.
- Berolahraga secara teratur.
- Menggunakan masker saat berada di lingkungan yang berdebu atau ketika sedang sakit. (Muthia)