Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Sentilan Keras dr. Indra Tarigan: Laki-Laki Sebaiknya Jangan Menikah Jika Belum Bisa Berhenti Merokok

Ghina Nailal Husna • Senin, 29 Juni 2026 | 21:12 WIB
Sentilan Keras dr. Indra Tarigan: Laki-Laki Sebaiknya Jangan Menikah Jika Belum Bisa Berhenti Merokok
Sentilan Keras dr. Indra Tarigan: Laki-Laki Sebaiknya Jangan Menikah Jika Belum Bisa Berhenti Merokok

 

RADAR KUDUS — Sebuah pandangan tegas sekaligus reflektif mengenai kesiapan membangun rumah tangga dilontarkan oleh pakar kesehatan, dr. Indra Tarigan.

Dalam sebuah edukasi kesehatan yang viral di ruang publik, ia memberikan nasihat menohok bagi kaum pria: laki-laki sebaiknya menunda atau tidak menikah terlebih dahulu jika belum mampu menghentikan kebiasaan merokok.

Nasihat ini bukan tanpa alasan mendasar. Dr. Indra menjelaskan bahwa garis pembatas antara masa lajang dan pernikahan terletak pada tanggung jawab.

Baca Juga: Ironis! SD Negeri di Yogyakarta Krisis Peminat hingga 1.000 Kursi Kosong, Wali Kota Hasto Wardoyo Ancam Copot Kepala Sekolah

Ketika seorang pria memutuskan untuk menikah, dampak buruk dari asap rokok tidak lagi bersifat individual, melainkan bertransformasi menjadi ancaman nyata yang harus ditanggung oleh istri, anak-anak, serta lingkaran keluarga tercinta.

Ancaman Medis: Dari Disfungsi Ereksi hingga Risiko Kematian Bayi (SIDS)

Secara klinis, paparan asap rokok—baik secara aktif maupun pasif—menyimpan bom waktu bagi kesehatan reproduksi dan masa depan generasi penerus.

Dr. Indra Tarigan membeberkan rantai efek domino negatif rokok yang dibagi dalam beberapa fase krusial:

1. Sebelum Memiliki Anak (Dampak Reproduksi Pria):

  • Penurunan Kualitas Sperma: Zat beracun dalam rokok merusak DNA sperma, menurunkan motilitas (perpindahan), serta memicu kelainan bentuk sperma.

  • Risiko Infertilitas: Peluang untuk memiliki keturunan menjadi jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama.

  • Disfungsi Ereksi: Kandungan nikotin menyumbat aliran darah ke organ vital, memicu gangguan ereksi pada sebagian besar pria.

2. Dampak Kesehatan Sistemik Suami:

  • Meningkatkan risiko serangan jantung koroner, stroke, hingga kanker paru-paru yang dapat melumpuhkan produktivitas kepala keluarga di usia produktif.

3. Setelah Memiliki Anak (Dampak pada Bayi dan Balita):

  • Sistem Imun Lemah: Anak dari orang tua perokok menjadi jauh lebih rentan terserang penyakit.

  • Infeksi Saluran Pernapasan: Risiko infeksi paru-paru (pneumonia/bronkitis) dan penyakit asma meningkat secara drastis.

  • SIDS (Sudden Infant Death Syndrome): Ancaman paling menakutkan berupa sindrom kematian mendadak pada bayi akibat kualitas udara yang terkontaminasi residu asap rokok (third-hand smoke) yang menempel pada karpet, baju, dan kasur.

Ironi Finansial: Rela Beli Rokok tapi Mengeluh Beli Susu Anak

Selain menyoroti aspek medis, dr. Indra Tarigan juga mengkritik keras anomali perilaku ekonomi yang kerap terjadi pada kepala keluarga perokok.

Ada sebuah ironi sosial yang nyata di mana seorang pria rela mengalokasikan anggaran hingga jutaan rupiah per bulan demi membakar rokok, namun mendadak menjadi sangat perhitungan saat dihadapkan pada pemenuhan gizi keluarga.

"Banyak laki-laki yang tidak protes menghabiskan uang banyak untuk rokok. Namun, mereka langsung mengeluh dan merasa terbebani saat harus menyisihkan uang untuk membeli susu anak, buah-buahan, atau kebutuhan fasilitas kesehatan keluarganya," cetus dr. Indra.

Berhenti Merokok: Hadiah Pernikahan Terbaik untuk Calon Istri

Di akhir pemaparannya, dr. Indra Tarigan mengingatkan kembali esensi sejati dari peran seorang suami dan ayah.

Baca Juga: Investasi Miliaran Macet Akibat Libur Sekolah, Mitra Dapur MBG di Bangkalan Desak Program Segera Beroperasi Kembali

Menjadi kepala keluarga bukan sekadar datang membawa nafkah materi secara berkala, melainkan memiliki fungsi mutlak sebagai pelindung (protektor) keluarga dari segala marabahaya, termasuk bahaya laten racun tak terlihat.

Oleh karena itu, jika seorang pria mengaku serius dan tulus ingin meminang kekasihnya, pembuktian cinta terbesar bukan terletak pada mewahnya pesta pernikahan.

Hadiah terbaik dan paling sakral yang bisa diberikan kepada calon istri dan anak-anak di masa depan adalah keputusan matang untuk berkomitmen penuh berhenti merokok demi kehidupan yang lebih sehat dan berkah. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#dr. Indra Tarigan #bahaya rokok keluarga #dampak rokok sperma #risiko SIDS bayi #persiapan menikah pria