Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Krisis Kesehatan Mental di Tasikmalaya: Terhimpit Ekonomi, Setiap Hari 60 Pasien Usia Muda Serbu RSUD dr. Soekardjo

Ghina Nailal Husna • Jumat, 12 Juni 2026 | 22:28 WIB
Krisis Kesehatan Mental di Tasikmalaya: Terhimpit Ekonomi, Setiap Hari 60 Pasien Usia Muda Serbu RSUD dr. Soekardjo
Krisis Kesehatan Mental di Tasikmalaya: Terhimpit Ekonomi, Setiap Hari 60 Pasien Usia Muda Serbu RSUD dr. Soekardjo

 

RADAR KUDUS — Sebuah fenomena memprihatinkan tengah membayangi lini kesehatan mental masyarakat perkotaan, khususnya di Jawa Barat.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya mencatat lonjakan drastis pada angka kunjungan pasien gangguan jiwa.

Mirisnya, mayoritas pasien yang datang untuk menjalani pengobatan medis kini didominasi oleh kelompok usia muda dan produktif.

Baca Juga: Alasan Keamanan dan Ekonomi, Polda Metro Jaya Alihkan Massa Aksi Bundaran HI ke Patung Kuda dan DPR

Situasi ini menjadi alarm keras bagi pemangku kebijakan, mengingat meningkatnya tekanan psikologis justru menggerogoti masyarakat yang berada di usia kerja aktif—kelompok yang seharusnya menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Tren Kunjungan Melonjak Tajam dalam Dua Tahun Terakhir

Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, dr. Titie Purwaningsari, mengungkapkan bahwa grafik kunjungan pasien ke layanan kesehatan jiwa di rumah sakit tersebut terus merangkak naik secara signifikan dalam dua tahun terakhir.

"Dalam sehari, aktivitas pelayanan di poliklinik kesehatan jiwa kami rata-rata harus melayani hingga 60 pasien.

Yang mengejutkan, persentase terbesar dari total kunjungan tersebut berasal dari kalangan usia muda dan produktif," jelas dr. Titie saat memberikan keterangan.

Faktor Ekonomi dan Sosial Jadi Pemicu Utama

Akar masalah tumbangnya kesehatan mental pada usia produktif ini terbilang sangat kompleks. Berdasarkan temuan klinis di lapangan, dr. Titie memaparkan beberapa faktor pemantik utama yang saling berkelindan:

  • Tekanan Ekonomi yang Menghimpit: Sulitnya mencari lapangan kerja, tingginya biaya hidup, dan jeratan utang atau masalah finansial menjadi beban pikiran yang konstan.

  • Tuntutan Pekerjaan dan Sosial: Ekspektasi lingkungan yang tinggi di tempat kerja serta paparan gaya hidup digital memicu kecemasan akut (anxiety).

  • Konflik Internal Keluarga: Minimnya support system di rumah dan disharmoni rumah tangga mempercepat kerentanan mental seseorang.

Sayangnya, kondisi ini kerap kali berawal dari stres harian yang dianggap sepele. Karena diabaikan dan tidak mendapatkan penanganan atau konseling yang tepat sejak dini, akumulasi stres tersebut perlahan bermanifestasi menjadi gangguan jiwa yang lebih serius.

Minim Literasi, Pasien Baru Berobat Saat Kondisi Kronis

Masalah psikologis yang masif ini diperparah oleh rendahnya literasi kesehatan mental (mental health literacy) di tengah masyarakat Tasikmalaya dan sekitarnya.

Masih kuatnya stigma negatif dan tabu mengenai gangguan jiwa membuat banyak penderita maupun pihak keluarga cenderung menutup diri.

Akibat ketidaktahuan terhadap gejala awal—seperti perubahan perilaku, gangguan tidur ekstrem, atau penarikan diri dari lingkungan sosial—mayoritas pasien baru dibawa ke rumah sakit ketika kondisi psikologisnya sudah masuk kategori berat atau kronis.

Hal ini tentu membuat proses pemulihan medis membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dan biaya yang tidak sedikit.

Realitas Pahit: Ribuan Pasien Hanya Ditangani Satu Dokter Spesialis

Di tengah gelombang pasien yang datang nyaris setiap hari, RSUD dr. Soekardjo sebagai rumah sakit rujukan terbesar di wilayah Priangan Timur justru dihadapkan pada realitas fasilitas dan SDM yang sangat terbatas.

Baca Juga: Butuh Dana Jumbo, Menkop Ferry Juliantono Ajukan Tambahan Rp1,34 Triliun demi 80 Ribu Kopdes Merah Putih

Saat ini, poliklinik jiwa rumah sakit tersebut tercatat hanya memiliki satu orang dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater).

Dokter tunggal ini harus pontang-panting melayani puluhan pasien per hari, mengatur jadwal kontrol, hingga menangani pasien dalam kondisi kedaruratan psikiatri. 

Keterbatasan ini menjadi potret nyata dari belum meratanya infrastruktur kesehatan jiwa di daerah, sekaligus menjadi tantangan besar yang harus segera dicarikan solusi oleh pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Gangguan jiwa usia muda #RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya #krisis kesehatan mental #keterbatasan psikiater daerah #tekanan ekonomi