RADAR KUDUS — Kewaspadaan terhadap penyakit menular yang bersumber dari hewan (zoonosis) kembali meningkat.
Seorang pasien pria berusia 49 tahun yang berprofesi sebagai buruh bangunan dilaporkan meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung setelah terkonfirmasi positif terinfeksi Hantavirus.
Berdasarkan keterangan tim medis, pasien tersebut mengembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan intensif selama tiga hari.
Pasien diketahui terserang Hantavirus tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), sebuah varian virus yang secara spesifik menyerang organ ginjal dan memicu kondisi demam berdarah yang parah.
Sebelum meninggal dunia, kondisi klinis pasien sempat memburuk secara drastis dengan indikasi gejala yang kompleks, meliputi:
-
Gangguan pernapasan berat (sesak napas akut).
-
Sclera ikterik atau kondisi mata memuning akibat disfungsi organ.
-
Penurunan drastis kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
Pihak RSHS Bandung menjelaskan bahwa fatalitas terjadi setelah kondisi tubuh pasien terus menurun, di mana pihak keluarga sempat menyatakan menolak untuk dilakukannya tindakan medis berupa pemasangan alat bantu napas atau intubasi.
Tren Kasus Nasional dan Sejarah Hantavirus di Indonesia
Menanggapi kasus tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI merilis data epidemiologi terbaru.
Pemerintah mencatat, sepanjang tahun 2024 hingga Mei 2026, telah ditemukan sebanyak 256 kasus suspek Hantavirus di seluruh Indonesia.
Dari ratusan laporan tersebut, sebanyak 23 kasus telah terkonfirmasi positif secara laboratorium yang tersebar di sembilan provinsi.
Dari total kasus konformasi tersebut, 20 pasien berhasil dinyatakan sembuh total, sementara 3 pasien lainnya—termasuk kasus di RSHS Bandung—dinyatakan meninggal dunia.
Secara historis, Hantavirus sebenarnya bukan merupakan mikroorganisme baru di tanah air. Agen penyakit ini pertama kali berhasil dideteksi dan diisolasi di Indonesia sejak tahun 1984.
Namun, urgensi pembahasannya kembali mencuat ke permukaan seiring munculnya laporan internasional mengenai wabah Andes virus (salah satu jenis Hantavirus) di atas kapal pesiar MV Hondius, yang terbukti memiliki kemampuan mutasi untuk menular antarmanusia (human-to-human transmission).
Kemenkes Pastikan Varian Domestik Tidak Menular Antarmanusia
"Masyarakat tidak perlu panik berlebihan secara sosial. Berdasarkan hasil surveilans genomik, kasus Hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejauh ini didominasi oleh varian HFRS.Tim dokter spesialis infeksi menjelaskan bahwa penularan Hantavirus tipe HFRS ini terjadi melalui kontak tidak langsung dengan hewan pengerat, terutama tikus.
Manusia dapat terinfeksi apabila tidak sengaja menghirup partikel (airborne) atau menyentuh benda yang telah tercemar oleh urine, air liur, maupun kotoran tikus yang membawa virus tersebut.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah melalui Dinas Kesehatan di berbagai daerah mengimbau masyarakat luas untuk memperketat budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Warga diminta untuk menjaga sanitasi lingkungan rumah, menutup rapat tempat penyimpanan makanan agar tidak dijangkau hewan pengerat, serta menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan saat membersihkan area gudang atau langit-langit rumah yang disinyalir menjadi sarang tikus. (*)