RADAR KUDUS – Fenomena anak mengalami masa pubertas lebih awal dari usia seharusnya kini semakin sering ditemui di masyarakat perkotaan.
Jika dahulu menstruasi pertama (menarche) pada anak perempuan rata-rata terjadi di usia 12-13 tahun, kini tak sedikit anak yang sudah mengalaminya sejak usia 9 tahun.
Para pakar kesehatan mengungkapkan bahwa salah satu pemicu utama pergeseran ini adalah faktor nutrisi yang berlebihan, yang secara biologis mempercepat kematangan hormon anak.
Baca Juga: Waspada Badai PHK 2026: KSPI Prediksi 5 Sektor Industri Ini Paling Rawan dalam 3 Bulan ke Depan
Menurut Prof. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon), dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi, kondisi gizi anak-anak zaman sekarang memang jauh lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.
Namun, kecukupan gizi yang melampaui batas—terutama yang memicu penumpukan lemak—menjadi pedang bermata dua.
"Anak sekarang nutrisinya makin baik dan kadar leptin lemaknya tinggi. Leptin inilah yang mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh sudah siap untuk memulai proses pubertas," jelas Prof. Aman.
Ketika simpanan lemak tubuh mencapai titik tertentu, hormon leptin akan memicu kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon reproduksi, sehingga pubertas terjadi lebih dini.
Banyak orang tua yang merasa bangga melihat anaknya tumbuh bongsor dan matang lebih cepat. Padahal, pubertas dini memiliki dampak serius pada tinggi badan akhir anak saat dewasa.
Saat anak masuk masa puber, hormon seks akan memicu pematangan tulang. Hal ini menyebabkan lempeng pertumbuhan (epifisis) pada tulang menutup lebih cepat.
Akibatnya, meski anak terlihat lebih tinggi dibandingkan teman sebayanya di awal masa puber, pertumbuhan mereka akan berhenti lebih cepat, sehingga tinggi badan akhir mereka cenderung lebih pendek dari potensi genetiknya.
Masalah pubertas dini bukan sekadar urusan fisik luar, melainkan berkaitan dengan risiko penyakit degeneratif dan kronis di masa depan.
Perubahan hormon yang terlalu cepat memengaruhi kepadatan tulang yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis saat beranjak tua.
Selain masalah tulang, Prof. Aman yang berpraktik di Klinik Anak AP&AP Jakarta dan RSPI Pondok Indah ini juga memperingatkan risiko lainnya:
PCOS (Polycystic Ovary Syndrome): Gangguan keseimbangan kadar hormon pada wanita.
Keganasan: Risiko kanker payudara atau organ reproduksi yang lebih tinggi akibat paparan hormon estrogen yang lebih lama sepanjang hidup.
Gangguan Psikologis: Anak secara mental belum siap menghadapi perubahan fisik dewasa, yang sering kali memicu kecemasan atau masalah kepercayaan diri.
Prof. Aman menekankan bahwa risiko-risiko tersebut mungkin tidak muncul secara instan, namun berkembang dalam jangka panjang jika tidak ditangani dengan tepat. Orang tua disarankan untuk:
Baca Juga: Tragedi Sepatu Sempit di Samarinda: Siswa SMK Meninggal Dunia Akibat Infeksi Luka yang Terabaikan
1. Menjaga Pola Makan: Menghindari asupan kalori berlebih dan makanan olahan yang memicu obesitas pada anak.
2. Aktivitas Fisik: Memastikan anak aktif bergerak untuk membakar tumpukan lemak jahat.
3. Konsultasi Medis: Segera membawa anak ke dokter spesialis endokrinologi anak jika muncul tanda-tanda seks sekunder (seperti pertumbuhan payudara atau rambut kemaluan) sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan atau 9 tahun pada anak laki-laki.
Dengan penanganan yang tepat dan deteksi dini, proses percepatan pematangan tulang dapat dihambat, sehingga anak tetap memiliki kesempatan untuk mencapai tinggi badan optimal dan terhindar dari berbagai risiko kesehatan di masa depan. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna