Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Doa dan Menu Tradisional Ini Dipercaya Bantu Atasi Gejala Beri-Beri

Ali Mustofa • Kamis, 23 April 2026 | 14:54 WIB
Ilustrasi pengobatan atasi gejala beri-beri (gemini ai)
Ilustrasi pengobatan atasi gejala beri-beri (gemini ai)

RADAR KUDUS – Penyakit beri-beri sejak lama dikenal masyarakat sebagai gangguan kesehatan yang ditandai dengan tubuh mudah lemas, pembengkakan pada kaki atau bagian tubuh lain, serta penurunan stamina.

Dalam tradisi masyarakat, selain pengobatan medis, dikenal pula ikhtiar sederhana berupa doa dan pengaturan makanan yang dipercaya membantu memulihkan kondisi tubuh.

Amalan ini diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk usaha lahir dan batin untuk menjaga

Beri-beri umumnya ditandai dengan pembengkakan pada tubuh yang bila ditekan tidak segera kembali seperti semula.

Kondisi ini membuat penderita merasa lemah dan tidak bertenaga. Dalam pemahaman tradisional, penyakit ini dibedakan menjadi dua jenis, yakni beri-beri basah dan beri-beri kering.

Gejala yang muncul kerap dianggap sebagai sinyal tubuh bahwa asupan gizi tidak terpenuhi secara optimal.

Sehingga diperlukan perbaikan pola makan serta ikhtiar doa sebagai bentuk permohonan kesembuhan.

Amalan Selawat Sebelum Makan dan Terapinya

Dalam tradisi masyarakat, langkah pertama yang dilakukan sebelum menjalani terapi makanan adalah membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 21 kali sebelum sarapan.

Selawat diyakini sebagai bentuk doa yang menghadirkan keberkahan, sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa setiap usaha penyembuhan perlu disertai harapan kepada Allah SWT.

Pola makan yang dianjurkan dalam tradisi ini cukup sederhana.

Setiap pagi, penderita dianjurkan sarapan menggunakan nasi sisa malam sebelumnya atau yang dikenal dengan istilah nasi wadang.

Kebiasaan ini dipercaya membantu tubuh memperoleh energi secara perlahan tanpa memberatkan sistem pencernaan.

Menu lauk yang disarankan adalah: Rebusan daun kacang panjang muda (lembayung). Sambal ikan teri sebagai pendamping

Kombinasi makanan tersebut dikenal kaya nutrisi dan dipercaya membantu mengembalikan tenaga secara bertahap.

Terapi sederhana ini dianjurkan dilakukan secara rutin setiap pagi. Konsistensi menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan, karena perubahan kondisi tubuh tidak terjadi secara instan.

Dengan pola makan teratur, doa, dan keyakinan, masyarakat percaya kesehatan perlahan akan kembali pulih.

Catatan Medis Penting

Secara medis, penyakit beri-beri disebabkan oleh kekurangan vitamin B1 (tiamin), bukan vitamin D.

Konsumsi makanan bergizi seperti kacang-kacangan dan ikan teri memang bermanfaat karena mengandung nutrisi penting.

Namun, apabila terjadi pembengkakan tubuh atau gejala semakin berat, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis agar memperoleh diagnosis serta suplemen tiamin yang tepat.

Pada akhirnya, tradisi ini mengingatkan bahwa menjaga kesehatan membutuhkan keseimbangan antara doa, pola makan bergizi, dan penanganan medis yang tepat. (top)

Editor : Ali Mustofa
#penyakit beri-beri #kondisi tubuh #kesehatan #asupan gizi #makanan