Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ramuan Tradisional untuk Disentri dan Diare yang Mudah Dipraktikkan di Rumah

Ali Mustofa • Kamis, 23 April 2026 | 14:29 WIB
Ilustrasi ramuan tradisional untuk disentri dan diare (gemini ai)
Ilustrasi ramuan tradisional untuk disentri dan diare (gemini ai)

RADAR KUDUS – Gangguan pencernaan seperti disentri dan diare masih menjadi penyakit yang kerap menyerang masyarakat.

Terutama saat kondisi cuaca tidak menentu atau kebersihan makanan kurang terjaga.

Kedua penyakit ini sama-sama menyerang saluran pencernaan dan menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan.

Sehingga penderita mudah lemas, bahkan bisa mengalami penurunan berat badan secara cepat.

Sejak dahulu, masyarakat memadukan doa, pengobatan alami, serta pengaturan makanan sebagai bentuk ikhtiar untuk mempercepat pemulihan.

Tradisi ini diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari kearifan lokal yang menekankan keseimbangan usaha lahir dan batin.

Disentri dikenal sebagai penyakit pencernaan yang ditandai dengan mulas hebat, frekuensi buang air besar yang sangat sering, hingga keluarnya lendir atau darah.

Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan dengan cepat sehingga penderita merasa sangat lemah.

Sementara itu, diare umumnya terjadi akibat keracunan makanan atau ketidaksiapan usus menerima jenis makanan tertentu.

Gejalanya mirip, namun biasanya tidak seberat disentri. Meski demikian, keduanya tetap memerlukan penanganan yang cepat agar tidak menimbulkan komplikasi.

Amalan Doa sebagai Ikhtiar Batin

Dalam tradisi masyarakat, doa menjadi langkah awal sebagai bentuk tawakal kepada Allah SWT.

Amalan yang dilakukan dimulai dengan mengambil sedikit garam dapur dan menggenggamnya di tangan, kemudian membaca: Surat Al-Fatihah sebanyak 1 kali. Selawat Nabi sebanyak 7 kali

Doa ini dipanjatkan dengan harapan agar penyakit segera diangkat dan tubuh diberi kekuatan untuk pulih.

Allah SWT berfirman: "Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." (QS. Asy-Syu’ara: 80)

Ayat ini menegaskan bahwa kesembuhan hakikatnya datang dari Allah, sementara manusia diwajibkan berusaha dan berdoa.

Ramuan Herbal Daun Jambu dan Garam

Setelah membaca doa, langkah berikutnya adalah menggunakan bahan alami yang mudah ditemukan, yakni daun jambu biji.

Daun ini sejak lama dipercaya membantu mengatasi gangguan pencernaan.

Caranya: Petik daun jambu biji. Kunyah daun tersebut bersama garam yang telah digenggam sebelumnya. Telan perlahan sebagai bagian dari ikhtiar penyembuhan.

Penggunaan daun jambu biji dikenal luas karena diyakini membantu mengurangi frekuensi buang air besar dan menenangkan saluran pencernaan.

Selain doa dan ramuan herbal, pola makan sederhana juga menjadi bagian penting dari proses penyembuhan.

Selama sakit, dianjurkan mengonsumsi makanan yang ringan dan mudah dicerna, seperti:

Ikan gurami yang dimasak tanpa minyak goreng, telur pindang, kopi pahit tanpa gula, dan buah sawo atau salak

Menu sederhana ini dipercaya membantu menjaga stamina tanpa membebani sistem pencernaan.

Tetap Utamakan Hidrasi dan Konsultasi Medis

Meski metode tradisional ini merupakan bagian dari warisan budaya, menjaga asupan cairan tetap menjadi hal paling penting.

Minuman elektrolit seperti oralit sangat dianjurkan untuk mencegah dehidrasi.

Apabila gejala tidak kunjung membaik, muncul darah, atau tubuh terasa sangat lemah, segera periksakan diri ke tenaga medis profesional.

Ikhtiar terbaik adalah memadukan doa, usaha, dan penanganan medis yang tepat.

Pada akhirnya, tradisi ini mengajarkan bahwa setiap penyakit memiliki jalan kesembuhan, selama manusia berusaha, berdoa, dan menjaga kesehatan dengan sebaik-baiknya. (top)

Editor : Ali Mustofa
#pencernaan #diare #penyakit #manusia #jambu biji