RADAR KUDUS – Memasuki bulan Ramadan, berbagai pertanyaan seputar kesehatan selama menjalankan ibadah puasa kembali menjadi perhatian masyarakat.
Mulai dari konsumsi kopi saat sahur, risiko penyakit lambung, hingga pola makan yang tepat untuk menjaga energi sepanjang hari menjadi topik yang banyak dibahas oleh tenaga medis.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, Tirta Mandira Hudhi menjelaskan sejumlah kebiasaan yang sering dianggap benar oleh masyarakat, namun sebenarnya perlu diluruskan berdasarkan penjelasan medis.
Konsumsi Kafein Saat Sahur Tidak Selalu Dianjurkan
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah konsumsi kafein saat sahur dapat membantu menjaga energi selama berpuasa.
Menurut penjelasan medis, kafein memang bersifat stimulan yang dapat meningkatkan aktivitas jantung dan kewaspadaan.
Namun, efek tersebut justru dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil sehingga tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
Kondisi ini berpotensi membuat seseorang lebih mudah merasa haus selama berpuasa. Karena itu, konsumsi kopi lebih disarankan dilakukan setelah waktu berbuka atau malam hari, bukan saat sahur, terutama bagi individu yang rentan mengalami dehidrasi.
Efek kafein sendiri umumnya bertahan sekitar tiga jam di dalam tubuh, sehingga masih relatif aman dikonsumsi setelah salat Isya atau tarawih bagi mereka yang tetap ingin menikmati kopi tanpa mengganggu ibadah puasa.
Bagi individu dengan riwayat gangguan lambung seperti gastritis atau GERD, puasa dapat menjadi masa adaptasi yang menantang karena lambung berada dalam kondisi kosong selama lebih dari 12 jam.
Dokter menyarankan penderita untuk tetap berkonsultasi dan mengonsumsi obat lambung sesuai anjuran dokter, biasanya saat sahur dan berbuka.
Selain itu, berbuka puasa sebaiknya diawali dengan air putih dan makanan ringan seperti kurma sebelum mengonsumsi makanan berat.
Makan berlebihan saat berbuka justru berisiko memicu gangguan pencernaan dan memperparah gejala asam lambung.
Jika kondisi sakit muncul secara tiba-tiba dan berat saat puasa, seseorang diperbolehkan membatalkan puasa karena faktor kesehatan.
Puasa Dapat Menurunkan Risiko Penyakit Kardiovaskular
Secara medis, puasa yang dijalankan dengan pola makan dan tidur yang baik dapat memberikan manfaat kesehatan, termasuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Saat tubuh tidak menerima asupan makanan dalam waktu lama, sumber energi beralih dari gula ke cadangan lemak.
Proses ini membantu menurunkan kadar kolesterol total dalam tubuh, yang berkontribusi pada penurunan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Namun manfaat tersebut hanya dapat diperoleh jika pola makan tetap seimbang dan tidak berlebihan saat berbuka maupun sahur.
Sahur Berlebihan Justru Berisiko Gangguan Lambung
Masih banyak masyarakat yang percaya bahwa makan dalam jumlah sangat besar saat sahur dapat mencegah rasa lapar sepanjang hari. Padahal, secara medis, lambung memiliki kapasitas terbatas.
Mengonsumsi makanan berlebihan saat sahur justru berpotensi menyebabkan mual, muntah, hingga refluks asam lambung.
Tubuh manusia pada dasarnya mampu bertahan tanpa makanan selama beberapa hari, sehingga makan secukupnya sudah cukup untuk menjaga energi selama puasa.
Kunci utama bukan jumlah makanan, melainkan keseimbangan nutrisi dan hidrasi yang baik.
Terkait pilihan minuman saat berbuka, baik air dingin maupun air hangat sebenarnya sama-sama diperbolehkan.
Namun sebagian dokter lebih menyarankan air hangat karena dapat memberikan sensasi nyaman pada tenggorokan setelah seharian tidak menerima asupan cairan.
Air hangat juga membantu relaksasi pembuluh darah di area tenggorokan dan meningkatkan kenyamanan saat proses berbuka. Meski demikian, air panas tidak dianjurkan karena berisiko melukai jaringan mulut.
Kopi sebaiknya tidak langsung dikonsumsi saat perut kosong karena dapat memicu gangguan lambung.
Pola Tidur Lebih Berpengaruh daripada Jenis Makanan
Rasa lelah saat puasa sering kali bukan disebabkan jenis makanan, melainkan pola tidur yang tidak teratur. Kurang tidur akibat begadang, termasuk kebiasaan bermain game hingga dini hari, dapat menyebabkan tubuh mudah lelah dan kehilangan fokus saat siang hari.
Karena itu, menjaga waktu istirahat setelah tarawih dan mengatur aktivitas fisik menjadi faktor penting dalam menjaga kebugaran selama Ramadan.
Asupan makanan yang mengandung magnesium juga dianjurkan selama puasa karena dapat membantu mengurangi kram otot serta meningkatkan kualitas tidur. Nutrisi ini dapat ditemukan pada kurma, alpukat, ikan, serta berbagai jenis daging.
Konsumsi nutrisi tetap dianjurkan dalam jumlah seimbang, karena kelebihan asupan tertentu juga dapat menimbulkan masalah kesehatan.
Secara keseluruhan, puasa Ramadan tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga manfaat kesehatan jika dijalankan dengan pola hidup yang tepat.
Para ahli menekankan bahwa fokus utama selama Ramadan adalah menjaga keseimbangan ibadah, kesehatan, dan aktivitas sehari-hari.
Dengan pengaturan pola makan, hidrasi, serta istirahat yang baik, puasa dapat menjadi momentum untuk memperbaiki gaya hidup sekaligus meningkatkan kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Editor : Mahendra Aditya