Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bahaya Begadang: Ganggu Ritme Sirkadian dan Picu Penyakit Serius

Redaksi Radar Kudus • Senin, 9 Februari 2026 | 20:22 WIB
ilustrasi orang begadang (foto:torwai)
ilustrasi orang begadang (foto:torwai)

RADAR KUDUS - Begadang masih sering dianggap sepele oleh banyak orang, terutama di era kerja fleksibel dan hiburan digital tanpa batas.

Padahal, tubuh manusia memiliki sistem biologis yang sangat teratur bernama ritme sirkadian, yaitu jam internal yang mengatur waktu tidur, bangun, metabolisme, hingga proses pemulihan sel.

Ritme sirkadian bekerja layaknya memori pada ponsel. Tubuh “mengingat” kebiasaan tidur seseorang.

Tak jarang seseorang bisa terbangun secara alami di jam yang sama setiap hari tanpa bantuan alarm. Hal ini terjadi karena tubuh telah mengenali pola waktunya sendiri.

Pada malam hari, khususnya sekitar pukul 19.00 hingga dini hari, tubuh memasuki fase penting untuk recovery.

Di waktu inilah sel-sel rusak diperbaiki, protein dibentuk ulang, sel kulit diregenerasi, serta otak beristirahat dari aktivitas seharian.

Setiap manusia memiliki kebutuhan tidur yang berbeda, namun pada dasarnya tidur adalah kebutuhan mutlak, bukan pilihan.

Dampak Begadang terhadap Tubuh

Ketika seseorang begadang atau kurang tidur, tubuh kehilangan waktu untuk melakukan pemulihan.

Sel-sel yang seharusnya diperbaiki, seperti sel darah merah, sel otot, sel kulit, hingga sel jantung tidak mendapatkan kesempatan regenerasi.

Akibatnya, kelelahan menumpuk dan tubuh mulai memberi “alarm” berupa rasa mengantuk berlebihan.

Mengantuk bukan sekadar rasa malas, melainkan sinyal bahwa otak kekurangan oksigen dan membutuhkan istirahat. Jika kondisi ini terus diabaikan, risiko gangguan kesehatan serius akan meningkat.

Begadang dalam jangka panjang dapat menyebabkan overworking pada jantung, karena sel jantung tidak sempat diperbarui.

Hal ini meningkatkan risiko penyakit jantung, hipertensi, hingga gagal jantung. Selain itu, penumpukan sel rusak juga berpotensi memicu kanker, karena sel abnormal dapat berkembang tanpa kontrol.

Tak hanya itu, begadang juga berkaitan dengan penumpukan lemak, penyempitan pembuluh darah, peningkatan tekanan darah, serta risiko stroke.

Otak yang terus dipaksa bekerja tanpa istirahat dapat mengalami kematian jaringan, yang dampaknya sering kali bersifat permanen.

Gangguan Ginjal dan Otak

Saat tidur, tubuh memfokuskan energi untuk menyaring racun melalui ginjal. Proses ini menghasilkan urine pagi hari yang menjadi tanda detoksifikasi alami tubuh.

Jika seseorang tidak tidur, proses ini terganggu dan dapat meningkatkan risiko gagal ginjal.

Otak pun membutuhkan waktu istirahat layaknya komputer yang perlu pendinginan. Tanpa tidur cukup, fungsi otak menurun, konsentrasi terganggu, dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan saraf.

Fase Tidur dan Sleep Paralysis

Tidur yang sehat terdiri dari beberapa siklus, masing-masing sekitar 90 menit, yang mencakup fase deep sleep dan REM (Rapid Eye Movement).

Deep sleep adalah fase tidur terdalam, saat tubuh benar-benar melakukan pemulihan. Sementara fase REM berkaitan dengan mimpi dan aktivitas otak kreatif.

Gangguan tidur dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai sleep paralysis atau ketindihan.

Secara medis, ini terjadi ketika otak terbangun lebih cepat daripada tubuh. Otot masih dalam fase pemulihan sehingga tidak bisa digerakkan, meski kesadaran sudah kembali.

Fenomena ini bukan hal mistis, melainkan penjelasan ilmiah dari gangguan siklus tidur.

Tips Tidur Nyenyak

Agar tidur lebih berkualitas, salah satu langkah penting adalah mematikan lampu atau menggunakan pencahayaan redup.

Cahaya dapat menghambat kerja hormon yang membantu pemulihan tubuh. Dalam kondisi gelap, sistem saraf akan lebih fokus pada proses istirahat dan regenerasi.

Bagi mereka yang terpaksa bekerja malam, seperti tenaga medis atau petugas keamanan, waktu turun jaga sebaiknya benar-benar dimanfaatkan untuk tidur, bukan diisi aktivitas lain.

Begadang terus-menerus sama dengan menabung risiko penyakit di masa depan. Mungkin dampaknya belum terasa di usia muda.

Namun, 10 hingga 20 tahun ke depan, kebiasaan begadang bisa berujung pada stroke, penyakit jantung, atau gangguan organ vital lainnya. Tidur bukan kemewahan, melainkan investasi kesehatan jangka panjang. (Ghina)

 

Editor : Mahendra Aditya
#begadang #bahaya begadang