RADAR KUDUS - Penyebab dan gejala virus Nipah kembali menjadi sorotan internasional setelah sejumlah kasus terdeteksi di India.
Seiring dengan perkembangan tersebut, berbagai negara meningkatkan kewaspadaan karena virus ini dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi serta berpotensi menyebar lintas negara.
Otoritas kesehatan di berbagai belahan dunia memperketat pemantauan dan langkah pencegahan.
Hal ini dilakukan mengingat virus Nipah merupakan penyakit berbahaya yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus.
Virus Nipah adalah penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Penularan utamanya terjadi melalui kelelawar buah dan babi.
Pakar kesehatan menjelaskan bahwa infeksi pada manusia dapat menimbulkan berbagai gejala yang sering kali sulit dikenali pada tahap awal.
Gejala awal infeksi virus Nipah umumnya menyerupai flu biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.
Kesamaan gejala ini kerap menyebabkan infeksi terlambat terdeteksi.
Pada kondisi yang lebih parah, virus dapat menyerang sistem pernapasan, menyebabkan batuk dan kesulitan bernapas, yang dalam beberapa kasus berkembang menjadi gangguan pernapasan berat.
Selain itu, infeksi virus Nipah juga dapat memicu gangguan neurologis.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus ini dapat menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak yang berpotensi fatal. Gejala neurologis tersebut antara lain penurunan kesadaran, kejang, hingga koma.
Kasus virus Nipah yang pertama kali terdeteksi di Benggala Barat, India, dilaporkan menyebar dengan cepat.
Mengutip laporan The Independent, pemerintah India saat ini tengah berupaya keras menahan penyebaran virus setelah sejumlah kasus terkonfirmasi, termasuk di kalangan tenaga kesehatan.
WHO menilai wabah Nipah bersifat lokal, namun tetap berisiko tinggi karena virus ini dapat menular antar manusia.
Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun terapi khusus untuk mengatasi infeksi virus Nipah.
Mengenai asal-usulnya, WHO menjelaskan bahwa virus Nipah secara alami hidup pada hewan, khususnya kelelawar buah dari genus Pteropus yang bertindak sebagai reservoir alami.
Kelelawar tersebut umumnya tidak menunjukkan gejala sakit, namun dapat menjadi sumber penularan ke hewan lain maupun manusia.
Virus dapat berpindah dari kelelawar ke hewan perantara, seperti babi, sebelum akhirnya menginfeksi manusia.
Pakar medis menyebut proses ini sebagai peristiwa spillover, yaitu perpindahan virus dari hewan ke manusia akibat kontak erat dengan hewan terinfeksi atau lingkungan yang tercemar cairan tubuh, seperti air liur, darah, atau jaringan yang terkontaminasi.
Selain melalui kontak langsung dengan hewan, penularan virus Nipah juga dapat terjadi melalui makanan yang terkontaminasi.
Buah atau produk olahan buah yang terpapar air liur atau urin kelelawar disebut menjadi salah satu faktor utama penyebaran virus ini.
Tak hanya itu, virus Nipah juga dapat menular antar manusia dalam kondisi tertentu.
WHO mencatat penularan pernah terjadi di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi. (Ghina)
Editor : Ali Mustofa