Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mitos Sakit Leher dan Pundak Pegal sebagai Tanda Kolestrol Tinggi

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 23 Januari 2026 | 14:08 WIB
ilustrasi sakit leher
ilustrasi sakit leher

RADAR KUDUS - Keluhan sakit leher dan pundak pegal kerap dikaitkan dengan kolesterol tinggi. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar dan masih sering disalahpahami masyarakat.

Berdasarkan literatur medis, kolesterol tinggi tidak selalu menimbulkan keluhan fisik secara langsung, terutama dalam waktu singkat.

Kolesterol memang memiliki peran penting bagi tubuh, antara lain untuk metabolisme sel dan pembentukan molekul yang dibutuhkan tubuh.

Namun, kadar kolesterol yang berlebihan, khususnya partikel LDL dapat memicu penumpukan plak pada pembuluh darah. Kondisi inilah yang meningkatkan risiko penyempitan pembuluh darah dan serangan jantung.

Banyak kasus menunjukkan, pasien dengan kondisi fisik yang terlihat bugar dan rutin berolahraga tetap dapat mengalami serangan jantung di usia relatif muda akibat kadar kolesterol yang tinggi.

Tak jarang, penyempitan pembuluh darah jantung sudah terjadi sejak usia 30 hingga 40 tahun tanpa disadari.

Dalam dunia medis, kolesterol kerap dibagi menjadi kolesterol “baik” dan “jahat”. Kolesterol HDL berfungsi membersihkan partikel berbahaya dari pembuluh darah dan membawanya kembali ke hati.

Sebaliknya, kolesterol LDL berperan dalam pembentukan plak yang dapat menyumbat pembuluh darah dan menjadi faktor independen penyebab penyakit jantung.

Kadar LDL yang dianjurkan berada di bawah 130 mg/dL, dengan target optimal di bawah 100 mg/dL.

Pada kondisi tertentu, seperti kadar LDL sekitar 150 mg/dL, penurunan kolesterol masih dapat dilakukan melalui cara alami, seperti pengaturan pola makan, olahraga rutin, serta pengurangan lingkar perut.

Penggunaan obat penurun kolesterol, seperti statin, tidak selalu diperlukan. Pemberian obat harus berdasarkan indikasi medis yang jelas, misalnya pada kadar LDL yang sangat tinggi, penderita diabetes yang tidak responsif terhadap diet, atau pasien dengan riwayat serangan jantung dan penyempitan pembuluh darah yang telah terdiagnosis secara pasti.

Konsumsi obat kolesterol tanpa pengawasan medis berisiko menimbulkan efek samping, terutama pada fungsi hati.

Hati berperan penting dalam metabolisme obat dan menjaga keseimbangan tubuh. Beban berlebih akibat obat yang tidak diperlukan dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak mengonsumsi obat kolesterol secara sembarangan hanya karena merasa pegal setelah mengonsumsi makanan berlemak.

Keluhan pegal di leher atau pundak tidak selalu berkaitan dengan kolesterol dan tidak terjadi secara instan setelah makan tertentu.

Pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi kunci pencegahan penyakit jantung. Banyak kasus serangan jantung terjadi tanpa gejala sebelumnya.

Padahal, penyakit jantung dapat dicegah dengan mengenali faktor risiko, melakukan skrining yang tepat, dan mengambil langkah penanganan sejak dini.

Kolesterol memang tidak sepenuhnya berbahaya, tetapi jika berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit serius.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menjaga pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala demi menjaga kesehatan jantung. (Ghina Nailal Husna)

Editor : Mahendra Aditya
#kolestrol tinggi #sakit leher #tanda kolestrol tinggi