Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Depresi di Indonesia: 19 Juta Korban Tersembunyi, Bangun Sebelum Terlambat!

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 20 Januari 2026 | 11:46 WIB
depresi di Indonesia
depresi di Indonesia

RADAR KUDUS - Di tengah perkembangan ekonomi dan digitalisasi Indonesia pada tahun 2026, masalah kesehatan mental berupa depresi justru semakin meresahkan, seperti yang tercatat oleh Kementerian Kesehatan dengan angka lebih dari 19 juta orang dewasa mengalami gangguan ini.

Angkanya meningkat drastis sejak pandemi COVID-19 yang memperburuk akses terhadap layanan kesehatan mental.

Berdasarkan Riskesdas 2023 terbaru, tingkat depresi di Indonesia mencapai 6,1% pada orang dewasa, dengan angka lebih tinggi pada wanita (7,6%) dan kelompok usia 15-24 tahun yang mencapai 9,2%.

Hal ini disebabkan oleh tekanan ekonomi, pengangguran setelah pandemi, serta isolasi sosial yang diakibatkan oleh penggunaan media sosial yang berlebihan.

Faktor utama yang mendorong tingginya angka depresi termasuk kemiskinan yang terstruktur terutama di area pedesaan seperti Jawa Tengah dan Nusa Tenggara, di mana satu psikolog hanya tersedia untuk 200.000 penduduk.

Selain itu, ada stigma budaya yang menganggap depresi sebagai "kelemahan karakter," sehingga banyak orang memilih untuk tidak berbicara atau mengandalkan pengobatan tradisional.

Pemerintah telah meluncurkan layanan telemedicine GRATIS melalui aplikasi Halodoc dan Sehat Jiwa pada 2025 melalui program Satgas Kesehatan Jiwa.

Di samping itu, kampanye "Jiwa Sehat Indonesia" di media sosial berhasil meningkatkan kesadaran 30% di kalangan Gen Z.

Meskipun masih terdapat tantangan besar yaitu jumlah psikiater yang sangat kurang hanya ada 700 untuk populasi 280 juta—serta tingginya angka kejadian pasca-bencana alam, seperti banjir yang terjadi di Jawa pada tahun 2026.

Contoh seperti lonjakan kasus bunuh diri di kalangan remaja di Jakarta yang meningkat 15% tahun lalu menyoroti perlunya tindakan cepat.

komunitas seperti Yayasan Pulih yang menawarkan hotline 24 jam (021-7256526) dan dukungan peer counseling bagi korban kekerasan dalam rumah tangga juga tersedia.

Dalam menghadapi masalah depresi yang semakin meningkat, Indonesia perlu meningkatkan jumlah tenaga kesehatan mental, mengurangi stigma melalui edukasi.

Dan memanfaatkan teknologi untuk menyediakan layanan yang lebih inklusif agar masyarakat tidak merasa sendirian berjuang melawan kesedihan dan dapat menuju masa depan yang lebih baik. (Anita Fitriani)

Editor : Ali Mustofa
#depresi indonesia #depresi #sehat jiwa #Gangguan mental